Tak Berkategori

Waysteel: Wayang Baja (Indonesian Superheroes) ~Part 1

~Waysteel: Wayang Baja~

Opening Song: Power Metal Power – Mision
DOWNLOAD

Dalam dunia ini, akan selalu ada kebaikan, begitu pula kejahatan. Manusia tetaplah manusia. Ada yang bersyukur dan selalu tunduk kepada Tuhan, adapula yang kufur dan menentang Tuhan, seperti sekelompok orang yang ada di dalam mansion tua yang megah nan angker di tengah hutan, mereka menyembah setan serta mempertuhankannya.

Di ruangan lain mansion tua itu, ada banyak penjara yang semuanya berisi gadis-gadis muda.

Di malam yang sunyi dan dingin, seorang pria dengan jubah hitam bertudung membuka kunci salah satu penjara dan menarik satu gadis yang ada di dalamnya, lalu mengikat tangan gadis itu dengan tambang.

“Kenapa ini? Saya mau diapain??” tanya si gadis.

“Sudah jangan banyak tanya! Ikut saja!” jawab pria jubah hitam itu.

Si gadis cuma bisa diam, karena tidak tahu harus berkata apa lagi.

Setelah mengunci kembali penjara yang ia buka, pria berjubah hitam tersebut membawa gadis itu ke ruangan lain yang lebih luas, yang mana di dalam ruangan tersebut berkumpul orang-orang dengan pakaian yang sama: Jubah hitam bertudung. Mereka semua berbaris rapih.

Pria yang membawa gadis tadi menyelak ke paling depan lalu menghampiri seseorang yang berdiri menghadap ke barisan. Topeng berbentuk wajah Burung Gagak terlihat menghiasi wajah orang itu meski tertutup oleh tudung.

“Ratu Gagak! Ini tumbalnya!” ucap pria yang menyelak barisan tersebut.

“Bagus,” jawab orang bertopeng gagak itu yang ternyata adalah wanita, terdengar jelas dari suaranya. “Taruh disitu!” perintahnya, seraya menunjuk sebuah batu berlambang `pentagram` dengan bentuk seperti tempat tidur yang ada di belakangnya.

Pria itu mengangguk, lalu memukul tengkuk gadis yang ia bawa hingga si gadis pingsan. Setelah itu, ia membaringkan si gadis di tempat yang ditunjukkan oleh Ratu Gagak. Kemudian ia pergi ke barisan orang-orang berjubah hitam lainnya, mencari tempat kosong dan berdiri disana.

Ratu Gagak berbalik, menatap gadis yang berbaring di atas tempat tidur batu tersebut. Lalu ia mengangkat kedua tangannya, seraya berteriak, “IAHAW SATAN!!! (WAHAI SETAN!!!)”

“IAHAW SATAN!!! (WAHAI SETAN!!!)” Orang-orang yang ada disitu, tak terkecuali orang yang membawa gadis tadi, mengikuti Ratu Gagak berteriak dan mengangkat kedua tangan mereka masing-masing.

“IAHAW NAHABMESES IMAK!!! (WAHAI SESEMBAHAN KAMI!!!)” teriak Ratu Gagak lagi.

“IAHAW NAHABMESES IMAK!!! (WAHAI SESEMBAHAN KAMI!!!)” Barisan di belakang Ratu Gagak mengikuti.

“NANGED HUNEP NAHADNEREK ITAH, IMAK NAKHABMESREPMEM GNAROES SIDAG UMKUTNU IAHAW SATAN!!! (DENGAN PENUH KERENDAHAN HATI, KAMI MEMPERSEMBAHKAN SEORANG GADIS UNTUKMU WAHAI SETAN!!!)” teriak Ratu Gagak. “HALAMIRET NAHABMESREP IMAK!!! (TERIMALAH PERSEMBAHAN KAMI!!!)”

“HALAMIRET NAHABMESREP IMAK!!! (TERIMALAH PERSEMBAHAN KAMI!!!)” teriak orang-orang di belakang Ratu Gagak.

Setelah itu, gadis yang terbaring di kasur batu, melayang ke atas. Tak lama, muncul sinar merah mengelilinginya.

Tidak lebih dari satu menit, si gadis menghilang.

Ratu Gagak melipat tangan kanannya di depan dada sambil kemudian membungkuk. Orang-orang berjubah hitam di belakang Ratu Gagak mengikutinya.

“Hisakamiret, satan, (Terimakasih, setan)” ucap Ratu Gagak. Kemudian ia berbalik, menatap barisan orang-orang berjubah hitam di depannya.

“Wahai para jemaat sekalian… Upacara wajib keagamaan kita baru saja selesai. Setan sudah menerima tumbal kita. Itu berarti dia semakin memberkati kita. Semua keinginan kita akan terkabul. Dan sebentar lagi, impian organisasi kita juga akan terwujud. Impian untuk MENGUASAI DUNIA!” kata Ratu Gagak.

“Yeeaa!!! Hidup Ratu Gagak!!! Hidup setan!!! Yeeaa!!!” sorak orang-orang berjubah hitam yang dipanggil `jemaat` oleh Ratu Gagak.

“Tapi ingat, selain harus terus mencari gadis, kalian juga harus terus mencari anggota sebanyak-banyaknya untuk organisasi kita, Dark Rhapsody!” perintah Ratu Gagak.

“Siap laksanakan!!” ujar para jemaat berjubah hitam itu.

“Hidup Dark Rhapsody …???” tanya Ratu Gagak sembari berteriak.

Para jemaat mengepal lalu mengangkat tangan kanan mereka, sambil berteriak, “Hidup!!!”

“Hidup Dark Rhapsody …???” Ratu Gagak kembali bertanya sambil berteriak.

“Hidup!!!” teriak para jemaat sekali lagi sambil mengangkat tangan kanan mereka yang terkepal

“Hidup Dark Rhapsody …???” Ratu Gagak bertanya lagi.

Para jemaat kembali menjawab, “Hidup!!!” seraya mengangkat tangan kanan mereka yang terkepal.

Teriakan mereka menggema di seisi ruangan.

=***=

Universitas Cahaya Sakti – Kota Sheraton, Selasa 28 April 2020, pukul 10:09 WIB.

“Pelangi pelangi… Alangkah indahmuuu…
Merah, kuning, hijau… Di langit yang biruuu…
Pelukismu aguunngg… Siapa gerangannn…?
Pelangi pelangi… Ciptaan Tuhan..
Oh.. Pelangi pelangi… Ciptaan Tuhan…”

Diatas panggung besar persegi panjang yang dihiasi karpet merah, tiga orang gadis baru saja membawakan lagu hasil cover mereka yang dipadukan dengan dance ala `Girlband Korea`.
Yang di sebelah kiri mengenakan kaos berwarna merah dan rambutnya rebonding lurus, yang tengah mengenakan kaos berwarna kuning dengan rambut dikuncir dua, sedangkan yang sebelah kanan mengenakan kaos berwarna hijau serta topi berwarna senada dengan kaosnya. Mereka bertiga mengenakan jaket yang sama yaitu biru. Wajah oriental, kulit putih mulus, serta body yang seksi, membuat mereka memiliki daya tarik tersendiri.

Orang-orang, yang terdiri dari para mahasiswa, dosen, dekan, sampai rektor kampus memberikan applause dan tepuk tangan yang meriah untuk mereka.

Setelah melambai-lambaikan tangan pada para penonton, ketiga gadis itu turun dari panggung lewat samping, kemudian menuju jejeran kursi yang masih kosong dan duduk.

“Yakin gue hari ini kita bakalan menang lagi,” kata salah seorang gadis yang baru saja tampil tadi. Ia membetulkan posisi topinya yang agak miring. “Ya kan, Pris?” lanjut gadis bermata sayu dan berhidung kecil itu sambil menoleh ke kanan. Untuk beberapa saat ia mengetuk-ngetuk bibirnya yang sensual dengan jari telunjuknya.

“Jenny… kita ini Trio Pelangi. Merah, kuning, hijau, di langit yang biru. Kita udah tiga tahun berturut-turut menangin kompetisi ini. Siapa coba yang bisa geser posisi kita?” ujar seorang gadis berambut rebonding panjang sepunggung dan bermata sipit yang duduk disamping gadis bertopi itu. Dengan mascara yang menghiasi matanya, bibir mungil, serta hidung yang sedikit mancung, membuatnya secantik boneka ‘barbie’.

“Eh!” Seorang gadis berkuncir dua menepuk bahu si gadis berambut rebonding. “Priska! Priska! Kunciran aku udah unyu-unyu belom sih??” tanyanya dengan nada halus dan lembut seraya memegangi rambut kuncir duanya.

Priska tersenyum lebar. “Udah, bonekaku Dhinda…. Hahaha…” Dengan gemas ia mencubit pipi tembam gadis berkuncir dua tersebut sambil tertawa.

Dhinda cemberut. “Sakit tahu, Pris. Mana ketawa, lagi. Apaan yang lucu sih?”

“Hahaha,” tawa Priska sekali lagi.“Ekspresi lo, tahu nggak!? Lucu gitu pas nanyain kunciran. Apalagi sekarang manyun gitu, bikin gue pengen nyubit lagi.”

“Eh, ja-jangan Pris!” tahan Dhinda. “Gue kan nanya gitu cuma takut penampilan gue nggak maksimal aja. Ntar gara-gara itu kita kalah, lagi.”

“Haha. Lo udah maksimal kok. Tenang aja, kita nggak mungkin kalah!” balas Priska.

Seorang pria tambun berumur kurang lebih tiga puluh tahun dengan jas hitam dan kumis panjang naik ke atas panggung, lalu berdiri di depan microphone bergagang panjang yang sedaritadi sudah disiapkan. Ia mengetuk-ngetuk mic tersebut beberapa kali sebagai check sound.

“Ehm ehm!” Pria tambun itu lalu berdahem. “Yak. Sekarang adalah hari terakhir dari `Kompetisi Mahasiswa Bertalenta` tahunan di kampus kita, sekaligus grand final yang menentukan siapakah yang pantas menyandang gelar `Mahasiswa Muda Bertalenta 2020`. Tujuan diadakannya kompetisi ini bukan untuk ajang cari sensasi, bukan untuk ajang sombong-sombongan, melainkan untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki generasi muda yang antusias dalam hal seni dan budaya, khususnya seni musik dan seni tari. Saya selaku panitia di kompetisi ini berharap, ke depannya mahasiswa-mahasiswa disini bisa terus berkarya hingga bisa menciptakan masterpiece yang dapat mengharumkan nama Indonesia. Sekarang, saya berdiri disini, adalah untuk mengumumkan siapa pemenang itu. Dan atas pertimbangan dari para dewan juri, pemenang Mahasiswa Bertalenta 2020, jatuh kepada………”

“Trio.. Pelangi!!!”

“Trio.. Pelangi!!!”

“Trio.. Pelangi!!!”

“Trio.. Pelangi!!!”

“Trio.. Pelangi!!!”

Kaum pria bersorak-sorai meneriakkan nama Trio Pelangi dengan penuh semangat. Hal itu membuat Trio Pelangi jadi tambah percaya diri serta yakin bahwa mereka akan meraih juara lagi tahun ini. Mereka sudah tidak sabar mendengar nama apa yang akan keluar dari mulut si panitia selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
.
“Ariel Sadewa!!!”

JDAR! Bagai disambar kilat mendadak, Trio Pelangi shock, kaget mendengarnya. Ternyata apa yang mereka harapkan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Betul-betul tidak disangka kalau posisi mereka sekarang berhasil digeser oleh seorang penyanyi solo, Ariel Sadewa. Semangat mereka yang tadi berkobar pun langsung padam seketika.

“Wuuuuuu ….!!!!” sorak para laki-laki yang tadi meneriaki nama Trio Pelangi. Mereka kecewa karena ternyata bukan Trio Pelangi yang keluar sebagai pemenang.

Ruang Organisasi Univ. Cahaya Sakti. Pukul 10:30 WIB.

“UGH! Nyebelin tahu nggak si Ariel!? Pasti dia ngerasa hebat karena udah ngalahin kita!” Priska mencak-mencak. Darahnya mendidih ke ujung kepala. Perasaannya campur aduk saat ini. Untunglah cuma ada dia dan dua orang temannya di ruangan itu.

“Itu dewan juri nggak salah milih pemenang, apa?? Bisa-bisanya milih orang macem dia,” kata Jenny yang duduk di sofa putih dekat sudut ruangan.

Priska menghela nafas. “Entahlah. Yang jelas gue masih nggak bisa terima! Ngapain juga sih dia pake ikutan kompetisi yang selalu kita menangin?!”

“Hmm… Kayaknya sekarang kita udah dikalahin dalam segala hal deh sama si Ariel,” timpal Dhinda yang duduk disamping Jenny dengan nada lembut.

“Nah, itu!” tunjuk Priska pada Dhinda. “Cowok yang namanya Ariel, adalah cowok yang songong akut! Sengak! Belagu! Dan sifat-sifat sejenis lainnya! Pokoknya, tipe makhluk yang nggak banget dalem kamus hidup kita!”

Jenny mengangguk setuju. “Tuh anak satu emang nyebelin banget! Jadi inget dulu pas gue lagi tanding game di Timezone.”

Jenny pun bercerita. Dia adalah seorang gamers cewek yang selalu menang dalam game apapun.
Di Timezone, Jenny berhasil mengalahkan tujuh gamers cowok pro dalam game balap mobil Battle Gear. Saking bosannya, Jenny mengadakan taruhan: Siapapun cowok yang bisa mengalahkannya hari itu juga, maka ia bersedia jadi pacar orang tersebut dan mau melakukan apa saja.

Tentu saja para lelaki berlomba-lomba untuk mengalahkan Jenny. Tapi kenyataannya, tidak ada seorang pun yang sanggup mengalahkan gadis tomboy itu.
Sampai pada akhirnya, Ariel yang kebetulan lewat melihat hal tersebut dan menantang Jenny. Tidak disangka kalau Jenny dapat dikalahkan dengan mudah olehnya. Mau tidak mau, Jenny pun menepati janjinya. Namun, Ariel hanya mengucapkan beberapa patah kata: “Kamu bukan tipe saya.” sebelum akhirnya berjalan begitu saja meninggalkannya.

Reputasi gadis itu langsung hancur seketika. Selama ini tidak pernah ada satu pun laki-laki yang menolaknya, bahkan selalu mengejar-ngejarnya. Tapi kali ini, dia ditolak mentah-mentah di depan banyak orang.

“Aku juga jadi inget pas dipecundangin sama dia beberapa bulan yang lalu,” ucap Dhinda setelah mendengar Jenny bercerita. “Kejadiannya pas aku lagi ngelatih karate anak-anak SMP di taman.”

Dhinda lalu mulai menceritakannya. Beberapa bulan yang lalu, di sebuah taman sore hari, ia yang tengah melatih anak-anak SMP direcoki rombongan preman dengan beladiri gaya bebas. Dhinda berhasil dikalahkan dengan mudah oleh mereka. Namun, saat itu, Ariel datang menolong. Semua preman yang jumlahnya delapan orang dibuat tumbang hanya dalam waktu tiga menit.
Meski berat, Dhinda pun mengucapkan terimakasih pada Ariel.

Murid-murid Dhinda yang kagum dengan kehebatan Ariel tertarik belajar beladiri yang ia gunakan. Ariel yang menyanggupi hal tersebut membuat Dhinda langsung kehilangan murid-muridnya saat itu juga.

“Wah, parah itu Dhin,” Priska geleng-geleng kepala mendengar cerita Dhinda.

Dhinda hanya bisa cemberut.

“Selain yang elo sama Jenny ceritain, gue juga punya pengalaman nyesek gara-gara dia. Pengalamannya pas gue ikut lomba Cerdas Cermat antar kota.” Priska melanjutkan kata-katanya, kemudian mulai menceritakan pengalamannya.

Di suatu kesempatan, Priska yang memiliki IQ tinggi mengikuti lomba Cerdas Cermat antar kota yang diselenggarakan oleh Walikota Sheraton. Selain mendapatkan hadiah besar, pemenangnya akan menjadi wakil Olimpiade Cerdas Cermat yang akan diadakan di Jepang.

Selepas SMA, Priska memiliki impian menjadi kebanggaan Indonesia dalam hal apapun. Lomba seperti itu jelas tidak disia-siakannya. Ia pun belajar keras dari pagi hingga malam berhari-hari demi impiannya.

Namun, ketika hari yang ditentukan tiba, Priska melihat Ariel tengah berdiri di barisan peserta tanpa ia duga sebelumnya.

Puncaknya, pada babak final, Priska yang sudah susah payah belajar sampai beberapa kali mengorbankan jam tidurnya, dikalahkan begitu saja oleh Ariel. Musnah sudah impian gadis itu.

Priska, Jenny, dan Dhinda, talenta mereka semua seolah tidak ada artinya jika berhadapan dengan Ariel. Belum lagi, pemuda itu selalu menggeser prestasi nilai Trio Pelangi di kampus, terutama Priska. Dan yang paling menyebalkan bagi Trio Pelangi adalah: Ariel mengalahkan mereka dalam hal yang mereka senangi.

“ARIEEELLL!!!!” teriak Priska dan Jenny serentak dengan hati yang dongkol.

Dhinda menutup kedua telinganya karena teriakan temannya yang menggema di seisi ruangan.

Food Court Univ. Cahaya Sakti, pukul 11:12 WIB.

Sebuah tempat makan bagi mahasiswa-mahasiswa yang hampir secara keseluruhan terdiri dari orang-orang elit dan anak pejabat.
Ruangannya full ac dengan lantai bercorak hitam putih yang terlihat bersih dan licin. Tiap-tiap meja makan persegi warna putih lengkap dengan bangku warna hitam yang ada disana, hampir semuanya sudah terisi penuh.

Tidak lama kemudian, semua mata lelaki tak berhenti berkedip kala salah seorang dari Trio Pelangi, Priska Agni, memasuki food court. Mereka terkesima dengan kecantikan serta keindahan tubuh gadis yang laksana boneka barbie itu. Bahkan sampai ada yang bersiul-siul menggoda serta menawarkan bangku untuknya. Tapi, Priska cuma membalas dengan senyuman termanisnya. Saking manisnya sampai membuat hidung beberapa lelaki mimisan.

“Daripada nungguin Jenny sama Dhinda yang lagi pada rempong minta nilai ke dosen, mending gue duluan aja,” ucap Priska.

Namun, tiba-tiba ia berhenti mendadak ketika melihat meja nomor `9` diisi oleh seorang pemuda berambut poni menyamping yang hampir menutupi sebelah matanya. Ia mengenakan baju berbahan kulit warna hitam yang dipadu balutan jaket panjang seperti jubah serta celana panjang jeans berwarna sama.

Alis mata tebal, hidung mancung, serta dagu yang panjang, membuat wajah pemuda itu terlihat menarik.
Matanya yang tajam dan datar tanpa ekspresi hanya terfokus pada makanan yang sedang ia santap: Semangkuk mie ayam bakso.

Priska mengernyitkan dahinya. “Ariel…??” matanya langsung memicing berbahaya seperti hendak menghajar orang. “Ngapain juga tu anak disitu?? Harus dikasih pelajaran nih!”
.
.
.
BRAK!

“Heh!” bentak Priska sambil memukul meja tempat Ariel makan.

Namun, gebrakan sekeras itu tidak membuat Ariel terkejut sama sekali. Ia masih saja makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Ngapain lo disini, Ariel Sadewa?? Mau sok bergaya karena udah ngalahin kita, hah??” tanya Priska dengan nada tinggi.

Ariel masih tetap makan dengan tenang.

“Heh! Denger Nggak??”

Ariel masih tidak bergeming seperti tidak ada ancaman yang datang.

“Budek lo ya??” tanya Priska. “Lo tahu kan ini meja `khusus` tempat nongkrong gue sama temen-temen gue?! Bisa minggir nggak?!”

Untuk yang kesekian kalinya, Ariel tetap makan dengan tenang.
Lalu, setelah suapan terakhir, ia berdiri.

“Saya udah selesai. Sekarang, silahkan nikmatin mejanya,” kemudian ia beranjak dari tempatnya makan.

“Apa lo bilang??? Uuughh!!!” geram Priska. Diambilnya papan menu yang tergeletak di atas meja dan mencoba memukul Ariel dari belakang.

Begitu papan tersebut hampir menyentuh pundak Ariel, pemuda itu hanya mengelak tipis ke samping.

Alhasil, Priska meluncur begitu saja ke depan, tubuhnya menabrak salah seorang pelayan food court yang sedang membawa semangkuk Bakso hingga mangkuknya terpelanting ke atas. Dan ….

Pluk!

Mangkuk bakso itu menelungkup di kepala Priska seperti topi.

Priska mematung. Nafasnya tertahan sejenak dan Bibirnya membulat.

Sebagian Orang yang terdiri dari kaum hawa terbahak-bahak melihatnya, sementara kaum adam berlomba-lomba membantu Priska, mereka mengeluarkan tisu untuk membersihkan tumpahan bakso di baju gadis itu setelah mangkuk bakso tersebut disingkirkan dari kepalanya.

Priska malu setengah mati. Harga dirinya langsung jatuh saat itu juga.

Sedangkan Ariel, ia hanya melenggang pergi dengan wajah datar tanpa beban.

=***=

Jalan setapak Kota Sheraton, pukul 21:00 WIB.

Di jalan sepi dengan penerangan minim dan banyak pepohonan, seorang pria berkepala plontos dengan setelan jaket cokelat, kaos putih, lengkap dengan celana jeans panjang biru berjalan selangkah demi selangkah dengan sekuntum mawar merah di tangannya. Sepatu pantovel hitam yang melapisi kakinya membuat penampilannya nampak elegan.

Di sebuah bangku panjang kayu warna coklat, seorang gadis bertubuh indah dengan kaos merah dan sweater serta hotpants biru tengah bersandar dengan kepala tertunduk karena fokus dengan handphone yang sedang ia mainkan.

Sang pria yang melihat gadis itu, segera menghampirinya.

“Selamat malam, Priska…,” sapa pria itu dengan logat `kebarat-baratan`.

Gadis tersebut menegakkan kepalanya, menatap pria itu. Yap, dia adalah Priska anggota Trio Pelangi.

“Eh Romy… Akhirnya dateng juga,” ucap Priska sambil tersenyum.

“Oiya Pris, nih bunga mawar buat kamu.” Romy menyodorkan bunga mawarnya ke Priska.

“Makasih…” Priska menerimanya, kemudian tersenyum. “Ayo duduk.”

Romy pun duduk disamping Priska. Ia lalu merogoh saku jaketnya dan mengambil sesuatu dari sana: Sebatang cokelat. Kemudian ia menyodorkan cokelat tersebut pada Priska. “Nih Pris. Ada lagi.”

“Wah, cokelat ya? Nggak deh, aku takut gemuk,” jawab Priska.

“Oh… Yaudah.” Romy kembali memasukkan cokelat itu ke saku jaketnya.

“Ehm … Ngomong-ngomong kok kita ketemuannya di tempat sepi kayak gini?” tanya Priska.

“Nggak kenapa-napa kok.. Cuma biar nggak ada yang ganggu aja,” jawab Romy. “Oiya Pris…,”

“Ng?” Priska menaikkan alisnya.

“Aku boleh ngomong jujur nggak sama kamu?” Romy bertanya.

“Boleh, mau ngomong apa?”

Romy menggenggam kedua jari Priska, lalu menatap matanya. Kontan saja gadis itu kaget. Jantungnya pun berdebar-debar. Ia seperti tidak bisa menolak pesona pria tampan seperti Romy.

“Sejak kemarin aku kenal kamu, aku …,” ucapan Romy terhenti.

“Apa?” tanya Priska.

Setelah berkata demikian, tiba-tiba mata Romy berubah menjadi merah dan sepasang taring panjang nan runcing mencuat di bibirnya. “Aku mau darah kamu!”

“Gyaaaakkhh!!!!” Priska menjerit histeris, kemudian bangkit dari bangku dan menjauh dari Romy.

Pada saat yang hampir bersamaan, Romy juga bangkit dari bangku.

“Jangan mendekat!!” tahan Priska seraya mengangkat kedua telapak tangannya ke depan.

Namun, Romy tidak menghiraukannya, ia terus berjalan perlahan mendekati Priska. “Darah… Darah…”

“Jangan mendekat!! Jangan mendekat!!” Priska terus mundur. Romy terus berjalan mendekatinya.

Tidak lama kemudian, Romy melompat dengan posisi hendak menerkam.

“Gyaaaaakhhh!!” teriak Priska. Untunglah ia bisa menghindar dari terkaman Romy. Lalu tanpa fikir panjang, ia langsung berlari dari tempat itu.

Romy pun mengejarnya.

Priska berlari sekuat yang ia mampu, berkelok sana-sini agar selamat dari kejaran Romy

Romy melompat. Dan tiba beberapa meter di depan Priska. Mata merah serta taring panjangnya membuat gadis itu kembali menjerit. Ketika Priska berbalik hadap dan hendak berlari, ia terjatuh.

Priska terus berusaha menyeret mundur tubuhnya kala Romy berjalan mendekat. Tubuh Priska gemetaran, diikuti dengan keringat dingin yang terus menerus bercucuran.

“Kamu itu sebenernya makhluk apa sih??” tanya Priska dengan bibir bergetar. Jantungnya terus berdetak cepat.

“Rahwana,” jawab Romy.

“Rahwana?” Dahi Priska mengernyit.

“Ya. Rahwana adalah makhluk abadi. Nggak seperti kalian, manusia. Sekarang, kamu nggak bisa kemana-mana lagi,” balas Romy.

Saat itu, Priska yang melihat beberapa potong besi yang bertebaran disekitarnya, mengambil salah satu potongan besi tersebut. Besi yang diambil adalah besi dengan ujung runcing.

Di waktu yang hampir bersamaan, Romy meloncat untuk menerkam Priska.

Namun…

CRATS!

Dada sebelah kiri Romy tertembus oleh besi yang dipegang Priska.

Mata Romy melotot. Tubuhnya pun melemas. Priska cepat-cepat membuang tubuh itu ke samping. Dengan nafas tersenggal-senggal gadis itu berdiri. Ia menyenggol-nyenggol tubuh Romy dengan kakinya.

“Dia mati. Gue udah nusuk jantungnya. G-g-gue … Gue pembunuh!” kata Priska dengan wajah cemas, seraya melihat kedua telapak tangannya. “GUE PEMBUNUUHH!!!”

Setelah berteriak, ia berlari tak tentu arah dengan penuh kepanikan. Ia kemudian berhenti di tempat yang lebih terang, lalu bersandar di sebuah pohon dan mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tangisan gadis itu tumpah seketika. Perasaannya sekarang campur aduk antara sedih, cemas, dan ketakutan. Tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tapi setidaknya, ia bisa bernafas lega, karena sudah lepas dari bahaya yang baru ia temui sekali seumur hidup.

Di saat gadis itu tengah terisak, dari balik pohon tempat ia bersandar, mencuat sepotong tangan memberikan sapu tangan padanya.

Tanpa terbesit apapun di benaknya, Priska mengambil sapu tangan itu. “Makasih,” ucapnya. Ia pun mengelap wajahnya yang digenangi air mata. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, ia berhenti mengelap wajah karena tersadar akan satu hal. “Yang ngasih nih sapu tangan siapa??” tanyanya.

Pertanyaan Priska pun langsung terjawab begitu Romy tiba-tiba muncul dari balik pohon.

“Aku,” ucap Romy. Dada sebelah kirinya masih tertancap oleh besi.

Priska pun terperanjat dan segera menyingkir dari sana. “K-k-kok bisa?? Bukannya kamu … Kamu udah …”

“Mati?” timpal Romy. “Akhahahaha… Udah aku bilang kan, Rahwana itu makhluk abadi…” Ia lalu mencabut besi yang menancap di dada sebelah kirinya tersebut. Seketika, lukanya kembali menutup dan pulih seperti sediakala, tanpa bekas.

“I-ini nggak mungkin! Ini nggak mungkiinnn!!!” Priska lalu berlari sekuat tenaga dari tempat itu.

Namun, beberapa meter kemudian, ia kembali melihat Romy beberapa langkah dihadapannya.

Priska pun terperanjat dan menjerit histeris. “Kyaaakkhh!!!” Tanpa fikir panjang, ia berbalik arah lalu berlari lagi.

Romy mengejarnya. Priska semakin ketakutan.

Tidak lama kemudian, Romy melompat tinggi dengan posisi hendak menerkam.

“Kamu udah nggak bisa kemana-mana lagi seka-”

Ucapan Romy tiba-tiba terhenti, persis ketika tubuhnya ditabrak oleh sepeda motor `futuristik` warna hitam berknalpot satu di atas roda yang terbang dari arah kiri. Tubuh Romy pun terlempar dan terguling-guling. Sementara sepeda motor hitam yang menabraknya mendarat mulus serta mendecit di tanah, tepat ketika pengendaranya menekan rem.

Pengendara motor berpakaian serba hitam itu melepas helmnya.

Priska menoleh lalu membalikkan badannya. Di waktu yang hampir bersamaan, pengendara motor hitam itu menoleh ke arahnya.

“Pergi!” perintah si pengendara motor. Wajah yang sangat dikenal oleh Priska. Teman sekampusnya yang belum lama ini ia maki-maki di Food Court.

“Ariel?? Elo-”

“Pergi sekarang!” potong Ariel. “Biar saya yang urus orang itu!”

Merasa tak punya jawaban, Priska pun segera pergi dari sana.

Kini, hanya tinggal Ariel dan Romy saja. Romy sudah kembali berdiri.

“HEH! Siapa kamu?? Berani-beraninya nabrak saya kayak gitu?!” ujar Romy

“Wajah itu!” Ariel tersentak. Tiba-tiba fikirannya melayang ke sepuluh tahun silam.

Ariel teringat pada seorang pemuda berusia belasan tahun yang hendak memukul pria berkepala plontos sambil meloncat. Wajah, bahkan tubuh pria berkepala plontos itu sangat serupa dengan Romy. Sayangnya, lengan kiri pemuda yang digunakan untuk memukul pria berkepala plontos tersebut tiba-tiba ditebas oleh seseorang yang datang dari arah lain. Orang itu adalah pria berambut panjang dengan jaket biru.
Kemudian si kepala plontos meninju perut orang yang hendak meninjunya tadi hingga orang tersebut terlempar dan masuk ke jurang.

“Kenapa diem? Apa maksud kamu, hah?!” tanya Romy.

“Jangan-jangan …,” batin Ariel. “Apa kamu tahu kejadian 13 tahun yang lalu?” tanya Ariel, seraya maju beberapa langkah.

“13 tahun yang lalu??” Dahi Romy mengernyit.

“Ya. 13 tahun yang lalu ada anak muda yang dipukul sampe masuk jurang sama orang yang persis kayak kamu. Sebelum dipukul, tangannya sempet ditebas sama orang berjaket biru.”

Romy berfikir sejenak, lalu terbahak, “Ahakhahahaha… Itu semua perbuatan saya. Saya yang pukul dia sampai masuk ke jurang. Lalu, pria berjaket biru itu, dia kawan saya, Hanzo. Kita semua tergabung dalam organisasi kegelapan yang hebat, Dark Rhapsody. Kenapa? Ada masalah?” tanyanya dengan penuh percaya diri.

Jari-jemari tangan Ariel langsung terkepal kencang. “Betul ternyata.”

“Bodoh! Buat apa saya kasih tahu dia!? Sial, gara-gara terlalu percaya diri, penyakit kelepasan ngomong ini kambuh lagi. Tapi udahlah,” gumam Romy. Ia kemudian berkata, “Oke, sekarang, karena kamu sudah buat saya yang hebat dan kuat ini marah, kamu akan merasakan akibatnya! HEAAAA!!!”

Romy lalu berlari menerjang Ariel dengan kedua tangan mengepal kuat.

“Bagus. Majulah!” ucap Ariel. Ia berdiri tegak dan memandang Romy dengan tatapan datar.

Begitu jarak Romy sudah dekat, pria kekar tersebut mengayunkan pukulan tangan kanannya ke wajah Ariel.

Dengan tenang, Ariel mundur satu langkah ke belakang. Namun di saat bersamaan, tangan kiri Romy terayun ke wajah pria tinggi kurus itu. Akan tetapi, serangan Romy luput, karena Ariel menghindar ke samping kanan.

Ariel lalu mengangkat lengan kirinya, bersiap melayangkan pukulan. Mata Romy pun terfokus ke sana.

Akan tetapi, Ariel tidak lantas melepaskan kepalan tangan itu ke depan, ia menahannya dan malah menggunakan lututnya untuk menendang perut Romy.

Romy yang sama sekali tak menduga serangan tersebut terpental beberapa langkah ke belakang.

Ariel berdiri memandangi Romy dengan tatapan dingin. “Cuma segitu?”

Romy berusaha bangkit sembari menahan rasa sakit di perutnya. “Brengsek! Saya nggak nyangka ternyata kamu sama kuatnya seperti dia yang 13 tahun lalu saya buat masuk jurang. Siapa kamu sebetulnya?”

“Saya … Adik dari orang itu,” jawab Ariel datar. “Sekarang, waktunya pembalasan!”

“Hoo… Ternyata! Jadi kamu mau balas dendam, ha?! Permintaan dikabulkan!!!” Romy lalu berlari ke arah Ariel. Amarah bergemuruh di dadanya. “Balaslah kalau bisa!!!!”

Saat Romy merasa jaraknya sudah cukup dekat, dengan cepat ia menyapukan kaki kanannya guna menjatuhkan Ariel.

Ariel yang sudah membaca serangan Romy segera melompat pendek untuk menghindar. Namun, ia tak sadar kalau tinju Romy meluncur dan langsung menghantam dagunya dengan sangat keras.

Pemuda berjaket hitam panjang itu pun terpelanting ke atas. Dagunya terasa amat sakit, seolah rahangnya hampir bergeser. Kesadarannya pun hampir hilang. Tapi untunglah ia masih bisa bertahan menjaga kesadarannya meski dengan susah payah. Ia lalu melakukan salto sebanyak tiga kali putaran ke belakang, lalu mendarat mulus dengan posisi berlutut.

“Tcih!” Ariel menyeka luka di bibirnya, kemudian berdiri.

“Heeaahh!!!” Romy berlari ke arah Ariel, lalu memutar tubuhnya seraya melakukan tendangan lurus ke depan.

Namun, tendangan tersebut meleset karena Ariel mengelak mundur. Meski begitu, Romy tak menyerah dan melancarkan tendangan sekali lagi dengan kaki yang satunya.

Takk!

Ariel berhasil menepis tendangan itu menggunakan punggung tangan kirinya, kemudian tangan kanannya melayangkan tinju ke wajah Romy.

Romy menghindar ke samping, dan secepat mungkin mengayunkan tinju ke wajah Ariel.

Terkesiap, Ariel menangkap pergelangan tangan kiri Romy, lalu menarik seraya memuntir lengan laki-laki itu yang dilanjutkan dengan menendang perutnya beberapa kali menggunakan ujung sepatu dan menendang dadanya sekuat tenaga hingga pemuda berkepala botak tersebut terpental serta terguling-guling ke belakang.

Romy berusaha bangkit sembari memegangi dadanya yang nyeri dan sesak. Pada saat yang sama, Ariel berjalan secara perlahan menghampirinya. Tatapannya yang tajam dan dingin menusuk mata Romy.

“T-tunggu! Istirahat sebentar,” tahan Romy ketika Ariel sudah dekat.

Ariel yang tak mempedulikan hal itu langsung menendang kuat tempurung kaki Romy. Tubuh pria kekar tersebut jungkir balik di udara selama beberapa saat, sebelum akhirnya punggung serta kepalanya menubruk keras salah satu pohon yang ada disana.

Tubuh Romy merosot. Ia lalu berusaha berdiri walau rasa sakit mendera disekujur tubuhnya.

“Keparat!! Sekarang, kamu akan benar-benar mati!!!” teriak Romy penuh amarah sambil mengepal kedua tangannya dan ia letakkan di depan dada, membentuk tanda silang. “Senjata!!” serunya.

Secara ajaib, kedua tangan Romy langsung dibungkus oleh sepasang sarung tangan panjang batas siku berwarna cokelat dengan permata bulat pada kedua punggung tangannya.

“Matilah kau!!!” teriak Romy, seraya berlari menuju lawannya, Ariel.

Begitu merasa cukup dekat, Romy pun melompat tinggi dan meluncur ke bawah dengan posisi menghantamkan kedua kepalan tangannya ke arah kepala Ariel.

Beruntung Ariel segera melompat mundur begitu serangan Romy datang. Alhasil, serangan tersebut mengenai jalanan hingga hancur. Puing-puingnya berhambur kemana-mana.

Pada posisi yang masih melayang di udara, Ariel melakukan tendangan berputar. Ujung sepatunya sukses mendarat di wajah Romy. Menyebabkan kepala pria botak itu berpaling.

Tapi, Romy masih mampu menjaga keseimbangan tubuhnya. Secepat mungkin tangan kirinya mencengkram leher Ariel yang masih melayang beberapa senti dari tanah. Cengkraman berhasil.

Ariel mencoba melepaskan cengkraman Romy dari lehernya. Namun itu semua percuma. Cengkraman Romy begitu kuat. Ariel hampir kehabisan nafas.

“Khuhuhu…” Romy menyeringai. Kemudian mengepal jari tangan kanannya kuat-kuat. “Matilah!!” teriaknya, sebelum akhirnya menghantamkan tinju persis di perut lawannya.

Ariel pun mencelat jauh ke belakang. Untunglah ketika tubuhnya hampir menyentuh tanah, ia langsung menggunakan kedua kakinya sebagai penopang, walaupun ia tetap menerima konsekuensi yaitu terseret mundur sejauh beberapa meter.

Begitu tubuhnya berhenti terseret mundur, Ariel mencoba mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Sembari memegangi perutnya yang sakit bukan main, ia berusaha mengumpulkan kembali tenaganya agar tetap bertahan di pertarungan.

Ariel menyingkap bagian jaket sebelah kanannya. Disana menggantung sebilah pedang berwarna hitam yang terbungkus rapih dengan sarungnya. Ariel mengambil pedang yang menempel pada magnet yang ada di jaketnya tersebut.
Perlahan, ia mengeluarkan pedang bergagang hitam tersebut dari sarungnya. Saat dikeluarkan, pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata.

Pada saat bersamaan, Romy sudah terlihat dari kejauhan. Sementara Ariel sudah siap dengan pedangnya. Pedang dengan pembatas berbentuk bulan sabit dan di tengahnya terdapat lampu bundar berwarna merah dengan bagian tepi lampu yang saling menyambung satu persatu seolah melingkari bagian tengah lensanya.

Ariel mengambil kuda-kuda sebentar, lalu memutar pedangnya seperti baling-baling. Sesaat setelah itu, pedang tersebut berputar cepat dihadapan Ariel dengan sendirinya. Kemudian ia menyentakkan telapak tangan kanannya ke depan. Di waktu bersamaan, pedang pun melesat ke depan dan lama kelamaan posisinya berubah jadi seperti boomerang, menuju ke arah Romy. Ketika pedang sedang menuju target, Ariel berlari mengikuti.

Romy memasang posisi siaga. Saat pedang itu sudah mendekat, ia segera meninjunya hingga terlempar. Namun, ia tidak sadar kalau Ariel juga tiba dihadapannya, sesaat setelah ia meninju pedang itu. Romy pun terkena bogem mentah dari Ariel persis di wajahnya, membuat pria botak dan atletis itu dibuat mundur dari posisi awalnya.

Pedang yang tadi ditinju Romy kembali lagi ke tangan Ariel.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Ariel segera mengayunkan pedangnya guna menyerang Romy.

Namun, dengan sigap Romy mengelak mundur. Tebasan selanjutnya dari Ariel juga berhasil ia hindari dengan mundur sekali lagi. Dan pada tebasan yang ketiga, Romy menepis sabetan pedang Ariel menggunakan sarung tangannya.

Tidak mau kalah, Ariel kembali mengayunkan dan menyabetkan pedangnya pada Romy. Sekali lagi, Romy mampu mengantisipasi serangan tersebut, menangkis dengan sarung tangannya.

Ariel yang merasa tidak puas menekan pedangnya yang saat itu masih menempel dengan punggung tangan kiri Romy sekuat tenaga. Di saat bersamaan, Romy menahan serangan itu dengan kekuatan penuh. Ia juga memakai tangan yang satunya sebagai tambahan tenaga.

Mereka berdua saling adu kekuatan untuk beberapa saat…

Sampai pada akhirnya, duel kekuatan itu dimenangkan oleh Romy.

Di saat kedua tangan Ariel terhentak ke atas, Romy mengayunkan tinju ke arah perutnya.

Akan tetapi, Ariel yang menyadari datangnya serangan tersebut mengelak ke samping, lalu menebaskan pedangnya ke tubuh Romy. Tebasan itu sukses membuat goresan memanjang diagonal di tubuh Romy. Tidak cukup sampai disitu, Ariel menebas tubuh Romy sekali lagi secara diagonal pada sisi yang lain. Romy pun terguling.

Ketika bangkit, pakaian Romy sobek-sobek, membentuk tanda silang serta mengeluarkan banyak darah.

Ariel berdiri menatap Romy dengan tatapan dingin.

“Cih! Jangan senang dulu, bung!” geram Romy. Secara perlahan, lukanya kembali menutup. Begitu pula dengan pakaiannya, kembali seperti sediakala.

Ariel tersentak.

Romy tersenyum miring. “Menarik juga. Kayaknya … Sekarang saya harus lebih serius.” Ia lalu meninju tanah sekuat tenaga dengan kedua tangannya sambil berteriak, “ARMOR!!”

Tanah pun berhamburan. Kali ini, kuantitasnya jauh lebih banyak.
Tanah-tanah tersebut lalu menempel di bagian-bagian tubuh Romy, dari ujung kaki hingga ujung kepala, kecuali tangan yang sudah dilapisi sarung tangan. Tanah-tanah itu membentuk pakaian pelindung berwarna coklat dengan ukuran sedikit lebih besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Helmnya tampak menyeramkan dengan dua tanduk di kepalanya.

“Akhahahahaha… Khahahahahaha!!!” tawa Romy. Suaranya berubah menjadi berat dan menakutkan. “Sekarang, panggil saya `Strong`, orang paling kuat di dunia! Itulah nama saya yang sebenarnya. Siap-siaplah pulang tinggal nama, bung! Khu hahahaha!!!”

Strong Armor
Strong

“Kita liat siapa yang akan tinggal nama, Strong,” balas Ariel dengan tenang. Kemudian ia merogoh saku celananya, mengambil sesuatu dari sana: sebuah benda berbentuk kotak kecil berwarna hitam yang lebih mirip dengan `memory card`.

Benda tersebut terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya.

Lalu Ariel menancapkan benda itu di ujung gagang pedangnya seraya berkata…

“Berubah!”

Pinggiran lampu yang terdapat pada gagang pedang milik Ariel menyala satu persatu, lampu itu sambung menyambung membentuk sebuah lingkaran. Disusul lampu bagian tengahnya.
Sebuah bayangan pakaian pelindung berwarna dominan hitam keluar dari lampu itu, bersamaan dengan menyalanya semua lampu yang ada di gagang pedang.

Bayangan pakaian pelindung itu lalu menjadi nyata dan menempel di tubuh Ariel.

Lensa mata berwarna merah pada helm yang melapisi kepala Ariel menyala terang. Di atas helm tersebut terdapat lempengan emas berbentuk wajik dengan corak abu-abu di tengahnya. Lempengan emas itu juga ada di bagian belakang helmnya. Bentuknya melengkung ke atas.

Lampu yang terdapat di tengah sabuknya sama persis seperti lampu yang ada di gagang pedang, warnanya pun serupa: Merah.

Bagian pelindung lututnya juga berwarna merah, senada dengan lensa helm dan lampu sabuk.

“Sekarang, panggil saya `Waysteel`! Wayang … Baja,” ucap Ariel.

Ariel Sadewa
Ariel Sadewa

Waysteel
waysteel perbaikan

“Waysteel? Rupanya kamu punya armor juga!? Ini semakin menarik!” balas Romy/Strong. “Bersiaplah, bung!!!” Ia kemudian berlari menuju lawan dihadapannya yang juga sudah berganti rupa.

Beberapa langkah kemudian, Strong meloncat dan meluncur dengan posisi hendak menghantamkan kedua kepalan tangannya.

Ariel/Waysteel pun bersiap. Persis ketika serangan Strong datang, ia segera melompat, membiarkan pukulan Strong menghancurkan tanah.

Merasa memiliki peluang, Waysteel mengayunkan pedangnya untuk menebas Strong.

Namun sayang sekali, Strong menepis tebasan itu menggukan punggung tangan kirinya. Bunga api memercik akibat benturan pedang Waysteel dan sarung tangan Strong.

Waysteel mundur sejenak, kemudian membuka katup yang ada di lengan kirinya. Disana terdapat tiga buah granat dengan warna berbeda. Waysteel mengambil granat berwarna biru dan langsung ia lemparkan pada Strong.

Pandangan Strong pun langsung kabur saat itu juga.

Tak mau membuang waktu, Waysteel langsung menyabetkan pedangnya di perut Strong. Membuat goresan memanjang vertikal disana.

Merasa ada banyak celah pada pertahanan Strong, Waysteel kembali mengayunkan pedangnya lalu menebas tubuh Strong berulang kali. Strong pun terhuyung dan mundur beberapa langkah dibuatnya. Asap mengepul dari bagian-bagian armor yang tergores.

“I-i-ini nggak mungkin! Pertahanan armor saya bisa tertembus. Senjata macam apa itu??” racau Strong keheranan. Di saat yang sama, goresan pada armornya mulai pulih seperti sediakala.

“Ini `Dhamarwulan`. Pedang yang bisa membelah apapun yang ada di dunia ini,” balas Waysteel.

“Kurang ajar! Ini masih belum berakhir!” Strong kemudian memasang kuda-kuda, sebelum akhirnya berlari menuju Waysteel lalu mengayunkan kepalan tangan kanannya sekuat tenaga.

Tapi, Waysteel berhasil mengelak dengan memutar bahu kirinya ke belakang. Meski begitu, pukulan kembali datang. Kali ini, tinju sebelah kiri Strong yang melayang. Namun, Waysteel mengelak sekali lagi dengan cara yang sama. Sekarang, bahu kanannya yang bergerak.

Strong yang masih melihat celah tidak mau kalah, ia melancarkan tinjuan lurus ke depan, persis ke dada Waysteel.

Sadar akan serangan yang datang, Waysteel memanfaatkan bagian badan pedangnya untuk menangkis serangan itu. Pukulan yang dilancarkan Strong saat ini jauh lebih kuat dibanding saat ia belum mengenakan armor. Untunglah Waysteel bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Jika tidak, ia bisa terpental.

Waysteel kemudian menggeser tubuhnya ke samping. Strong yang tinjunya masih menempel pada badan pedang Waysteel langsung hilang keseimbangan. Hal itu menjadi peluang bagi sang Wayang Baja untuk menyarangkan sabetan besar pada tubuh Strong. Satu, dua, tiga sabetan sukses menggores armor Strong.

Akan tetapi, pada sabetan keempat, Strong berhasil menahan serangan Waysteel dengan tangan kirinya. Kemudian ia mengepal tangan kanannya sekuat mungkin, lalu meninju Waysteel.

Refleks, Waysteel pun menghindar dengan melompat ke kiri. Namun demikian, serangan masih tetap datang. Strong menyerang Waysteel dengan tinjuan membabi buta. Waysteel pun terus berusaha menghindari serangan-serangan tersebut dengan segala upaya. Sang Wayang Baja juga menyerang balik dengan kepiawaiannya bermain pedang, walaupun Strong mampu menghindar serta menepis serangan itu beberapa kali.

Mereka berdua bertarung cukup sengit dengan serangan-serangan yang dapat membunuh lawannya kapan saja. Hal tersebut terus berlangsung selama beberapa saat. Tidak begitu terlihat siapa yang jauh lebih unggul disini, karena meski Strong beberapa kali kena tebas, goresan-goresan di tubuhnya selalu kembali seperti semula.

Tak lama kemudian, Waysteel yang gagal menebas Strong, langsung melancarkan tendangan lurus.

Akan tetapi, tendangan Waysteel tidak berpengaruh apa-apa, bahkan tubuh Strong saja tidak bergeser sedikitpun.

Waysteel sontak kaget.

“Khahaha.. Ternyata anda cuma sakti di senjata saja, bung! Armor anda tidak bisa menandingi armor saya,” ejek Strong yang langsung mencengkram kaki Waysteel lalu melemparkan tubuhnya.

Tubuh Waysteel meluncur cepat hingga akhirnya menubruk pohon.

“Tcih!” dengus Waysteel, sambil berusaha bangun.

Strong mengarahkan kedua telapak tangannya ke bawah lalu berkonsentrasi.

Jalanan yang ia pijaki pun bergetar, diikuti dengan retakan dimana-mana hingga akhirnya membentuk sebuah bongkahan besar yang kemudian menempel di masing-masing telapak tangan Strong. Tanpa mau membuang waktu lagi, Strong langsung melemparkan bongkahan-bongkahan besar tersebut satu persatu ke arah Waysteel.

Setelah itu, Strong kembali mengulangi hal yang sama: Menghancurkan jalanan dan melemparkan bongkahannya pada Waysteel. Ada empat bongkahan besar yang melesat ke arah Waysteel.

Waysteel yang sudah berdiri kembali segera bersiap-siap mengantisipasi hal tersebut. Dengan cepat, ia menebas bongkahan-bongkahan yang datang satu persatu hingga menjadi potongan yang kecil-kecil.

Namun, hal itu masih belum berakhir. Bongkahan aspal kembali datang, dan kali ini jumlahnya lebih banyak.
Tetapi, Waysteel tetap dapat menebasnya satu persatu, bahkan dua sekaligus hingga menjadi puing-puing kecil.

Setelah bongkahan-bongkahan aspal tersebut hancur, ia lalu menekan sebuah tombol berwarna merah yang terdapat di sebelah kiri sabuknya.

Sisi lampu yang ada di kepala sabuk pun menyala satu persatu, disusul dengan lampu bagian tengahnya. Begitu semua lampu menyala, sabuk pun mengeluarkan suara, “Highspeed Activated!”

Waysteel mengambil kuda-kuda sebentar, sebelum akhirnya melesat secepat kilat menuju musuhnya.

Tiba-tiba, Strong merasakan tubuhnya ditebas berkali-kali dengan kecepatan yang luar biasa. Ia pun terpental ke belakang. Tapi di belakang, ia disambut oleh tebasan dengan kecepatan yang sama.

Sementara itu, dihadapannya, Waysteel melihat Strong perlahan-lahan tersungkur ke depan dengan sangat lamban, bahkan nyaris seperti berhenti.

Memanfaatkan kesempatan yang ada, Waysteel membuka sebuah penutup berbentuk bundar yang terdapat pada sisi sebelah kiri gagang pedangnya. Disana, ada tombol merah dan layar kecil disampingnya.

Waysteel menekan tombol itu. Layar pun mengeluarkan suara dan tulisan, “Black Flame! Ready!”

Seketika, mata pedang milik Waysteel diselimuti api berwarna hitam. Pada saat bersamaan, layar di gagang pedang mulai menghitung mundur dari hitungan ke `10`.

Setelah itu, Waysteel mengambil ancang-ancang. Kaki kanannya ia tekuk ke depan. Sementara kaki kirinya lurus ke belakang. Di saat bersamaan, tangan kirinya ia tekuk beberapa senti di depan dada dan tangan kanannya yang memegang pedang ia rentangkan ke belakang. Setelah mengumpulkan banyak tenaga, ia memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat. Tubuhnya terus berputar, seperti gasing yang diselimuti api hitam.

Tiba-tiba, tubuh Strong yang sebentar lagi jatuh ke tanah, dihantam oleh sesuatu dengan kecepatan di luar batas hingga tembus ke belakang. Secara spontan, tubuhnya langsung terbakar oleh api hitam.

Sedetik kemudian, Waysteel muncul beberapa meter di belakang Strong dengan posisi berlutut.

Di waktu yang hampir bersamaan, tubuh Strong terbelah menjadi beberapa bagian.

`Highspeed Over!`

Terdengar suara yang berasal dari sabuk Waysteel.

`3.. 2.. 1..` Layar pada gagang pedang Waysteel menghitung mundur. Dan pada hitungan ke-1, api hitam yang menyelimuti mata pedangnya langsung padam.

Saat itu, tubuh Strong yang sudah terpotong-potong berubah menjadi pasir putih. Pasir tersebut terbakar oleh api hitam.

Waysteel perlahan berdiri. Kemudian ia membuka katup berbentuk kotak yang terdapat pada tepi kiri lengan kanannya. Disana, ada sebuah tombol berwarna biru serta lampu led kecil berwarna merah.

Waysteel menekan tombol biru tersebut, membuat lampu led disamping tombol itu menyala dan mengeluarkan suara rekaman digital, `Armor System Deactivated!`

Sesaat setelahnya, armor yang dikenakan Waysteel kembali menjadi bayangan, lalu masuk ke dalam lampu yang ada di gagang pedangnya. Waysteel sudah kembali ke wujud manusianya: Ariel Sadewa.

Ariel mengambil sesuatu dari saku sebelah kiri celananya. Sesuatu itu ialah benda yang bentuknya mirip dengan handphone. Ada banyak tombol dan satu buah layar disana. Ariel menekan tombol ‘111’ pada benda tersebut lalu menekan tombol ‘Ok’. Layar pada benda itu tiba-tiba memunculkan gambar sarung pedang hitam milik Ariel, Dhamarwulan.

Sarung pedang milik Ariel yang entah tergeletak dimana langsung berubah menjadi serpihan-serpihan holograpichal. Serpihan-serpihan holograpichal tersebut kemudian menghilang dan tiba-tiba muncul dihadapan Ariel lalu berangsur-angsur berubah menjadi sarung pedang miliknya. Ariel mengambil sarung pedang tersebut, kemudian menyisipkan Dhamarwulan ke dalamnya. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan langkah tenang.

Pertarungan telah usai.

=***=

Part 1 End

Standar
Tak Berkategori

Halo dunia!

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika Anda menyukai, gunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengapa Anda memulai blog ini dan apa rencana Anda dengan blog ini.

Selamat blogging!

Standar