Novel Superhero Indonesia, Novel Tokusatsu Indonesia, Superhero Indonesia, Tokusatsu Indonesia

Waysteel: Wayang Baja (Indonesian Superheroes) ~Part 3

Kediaman Sadewa, pukul 20:00 WIB.

Pesta ulang tahun Ariel selalu mewah dan meriah, layaknya pesta yang diadakan keluarga konglomerat lain. Tak hanya
suasananya, para tamu yang datang pun terlihat glamour, karena mereka yang hadir bukan cuma teman-teman kampus Ariel (tak terkecuali Trio Pelangi), tetapi juga rekan-rekan bisnisnya di perusahaan ternama `Sadewa Hi-Tech`.

Sejujurnya, pesta mewah yang diadakan di taman belakang rumahnya itu, bukanlah kemauan dan rencana Ariel, melainkan Maritha yang merupakan orang kepercayaan keluarga Sadewa, sekaligus asisten Ariel.

Usai acara inti berakhir, para tamu undangan menyebar, asyik dengan hidangan yang tersedia serta obrolan masing-masing. Trio Pelangi terlihat sedang duduk di bangku dekat pancuran air sambil mengobrol satu sama lain.

“Eh Pris, tumben kita diundang Ariel ke acara ultahnya. Biasanya kan nggak pernah. Malah kita aja nggak tahu ultah tuh anak kapan,” kata Jenny setelah menyuap pudding yang ia pegang.

“Nggak tahu tuh. Gue juga heran. Padahal dia rival kita di kampus,” ucap Priska.

“Ya ampuunn… Makanannya enak banget! Nggak nyesel aku dateng kesini.” Dhinda asyik sendiri dengan makanan yang ia santap yaitu semangkuk sup jagung. “Ternyata Ariel baik juga ya orangnya.”

“Iya baek. Baeknya cuma hari ini doang,” kata Priska ketus.

“Priska, nggak boleh begitu, tahu.” Dhinda menasehati. “Biar gimanapun juga kita kan udah diundang ke acara pestanya. Seenggaknya hargain dia dikit lah. Siapa tahu dia udah nggak nyebelin lagi.”

“Iya. Tapi dikit aja,” kata Priska. Sekali lagi, dengan nada ketus.

“Udah udah! Kita juga kan dapet makan gratis. Ambil positifnya aja. Tapi, cuma buat kali ini!” ujar Jenny.

Tiba-tiba, Ariel yang memakai pakaian tuxedo lewat dihadapan mereka.

“Ariel!” panggil Priska.

Ariel menengok ke kiri lalu berhenti.

Priska berdiri, kemudian menyodorkan tangannya pada Ariel dengan sedikit malas. “Selamet ulang tahun ya.”

“Thanks.” Ariel menjabat tangan Priska.

“Oh iya, Riel, tumben lo ngundang kita. Langka banget nih. Ada angin apa?”

“Nggak ada angin apa-apa.” Ariel kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Priska.

“Ternyata si Ariel nggak berubah. Masih nyebelin,” ucap Jenny. Ia berdiri dari bangkunya lalu menghampiri Priska. “Tapi yang penting, makan gratiiis..”

“Ah, lo mah makan mulu sih. Liat tuh badan lo yang hampir melar,” tukas Priska.

“Biarin. Yang penting kan masih sekseeehh!!” ujar Jenny.

Tiba-tiba, suasana yang meriah dan menyenangkan itu dikacaukan oleh segerombolan orang berjas hitam rapih. Mereka menyerang para tamu dengan pistol dan juga tangan kosong, serta menghancurkan dekorasi pesta. Para tamu pun berhamburan, ada pula yang menjerit ketakutan.

“Ya ampun, ada apa sih ini??” kata Priska dengan panik.

“Duilaahh.. Mereka siapa sih?? Kok dateng-dateng bikin kacau??” ucap Jenny kebingungan. “Oh iya Dhin, lo kan bisa karate, coba lo hadepin mereka!” perintah Jenny pada Dhinda.

Dhinda mengangguk. “Oke! Akan aku coba,” ucapnya. Ia pun kemudian maju untuk menghajar gerombolan orang berjas hitam tersebut.

Dhinda menarik tangan salah seorang dari mereka yang sedang menyerang tamu pesta, lalu memelintirnya dan menendang perutnya beberapa kali. Setelah itu menendang wajahnya, hingga orang berjas hitam tersebut terlempar beberapa langkah dari posisi awalnya.

Melihat hal itu, dua orang berjas hitam lagi maju menyerang Dhinda. Ketika mereka merasa jaraknya sudah dekat dengan Dhinda, mereka melayangkan pukulan pada gadis itu.

Sadar akan serangan yang datang, Dhinda menangkis pukulan tersebut menggunakan tangan kanan dan kirinya, kemudian menapak dada mereka yang disusul dengan tendangan ke wajah mereka secara bergilir. Dua orang berjas hitam itu pun jatuh terjerembab.

DZIUNG! DZIUNG!

Suara tembakan terdengar nyaring, pelurunya mengarah ke Dhinda.

Melihat hal itu, Dhinda berusaha menghindar dengan melompat ke arah kanan.

Tembakan itu berasal dari salah seorang berjas hitam lagi.

Di waktu yang hampir bersamaan, orang-orang berjas hitam yang tadi sudah Dhinda tumbangkan kembali berdiri, lalu berubah menjadi makhluk mengerikan berwarna merah dengan sepasang tanduk hitam di kepalanya serta cakar runcing di setiap jarinya. Makhluk itu tak lain adalah `Asura` (makhluk yang belum lama ini dilawan Ariel). Salah satu dari Asura maju menyerang Dhinda.

Asura tersebut menyerang Dhinda dengan cakarnya.

Dhinda secepatnya menepis serangan yang datang itu dengan punggung tangan kirinya, lalu meninju perut Asura itu berulang kali. Di saat yang sama, 2 orang berjas hitam mengarahkan pistol mereka ke arah Dhinda. Dan pelatuknya pun mereka tekan DZIUNG! DZIUNG! DZIUNG! DZIUNG! DZIUNG! DZIUNG! Peluru kembali mengarah ke Dhinda. Kali ini lebih banyak.

Dhinda yang menyadarinya, dengan cepat melindungi diri dengan menjadikan Asura yang bertarung dengannya sebagai `tameng`. Alhasil, Asura itulah yang kena tembak. Asura tersebut jatuh, tubuhnya berubah menjadi pasir.

“Ternyata nggak sia-sia gue latihan lebih keras sebulan ini,” gumam Dhinda. Saat itu, 2 Asura lagi maju. Mereka menyerang Dhinda membabi-buta, menghujaninya dengan cakaran, pukulan, dan tendangan.

Dhinda merasa kerepotan, karena ia juga harus menghindari tembakan dari 2 orang berjas hitam.

“Ayo Dhin!! Semangat terus!! Dhinda hebat!!!” teriak Priska dari jauh.

“Semangat Dhin!!!” teriak Jenny yang ada disamping Priska.

Ariel yang sedang berada di dalam rumahnya, merasa penasaran mendengar kegaduhan yang `tak biasa` yang berasal dari taman belakang rumahnya. Ia pun segera pergi kesana untuk mengecek.

Ketika sudah berada disana, Ariel langsung terkejut begitu melihat kekacauan di tengah pestanya.

Ariel melihat 2 Asura sedang bertarung sengit melawan Dhinda hingga dekorasi pesta banyak yang rusak dan orang-orang berhambur ketakutan. Selain itu, Dhinda juga ditembaki oleh 2 orang berjas hitam.

Tak mau diam saja melihat pestanya dirusak, Ariel kemudian mengambil sesuatu dari saku sebelah kiri celananya. Sesuatu itu ialah sebuah benda persegi dengan warna dominan hitam yang bentuknya seperti `handphone` yang tak lain adalah `Wayphone`. Ariel menekan tombol `122` pada benda tersebut lalu menekan tombol `Ok`. Layar Wayphone tiba-tiba memunculkan gambar pedang Dhamarwulan dan Waysteel Digital Memory.

Dari dalam Wayang Base, Dhamarwulan serta Waysteel Digital Memory berubah menjadi serpihan-serpihan holograpichal dan kemudian menghilang.

Tak lama, serpihan-serpihan holograpichal itu muncul di depan Ariel dan lama kelamaan berubah kembali menjadi Dhamarwulan serta Waysteel Digital Memory. Ariel mengambil Waysteel Digital Memory yang melayang di depannya. Benda itu ia kantongi di saku belakang sebelah kiri celananya. Tak lupa, ia juga mengantongi Wayphone di saku samping kiri celananya.

Setelah itu ia mengambil Dhamarwulan yang masih melayang dihadapannya, kemudian langsung melepaskan pedang tersebut dari sarungnya.

Usai menyelipkan sarung Dhamarwulan di ikat pinggangnya, Ariel melompat ke arah Dhinda yang sedang bertarung. Tanpa basa-basi, Ariel langsung menebas dua Asura yang tengah menyerang Dhinda dengan Dhamarwulan. Ariel menebas mereka dari belakang, berulang kali. Tubuh kedua Asura itu pun terpotong-potong, dan akhirnya berubah menjadi pasir.

Usai membunuh 2 Asura, Ariel membelah tiap butir peluru yang ditembakkan oleh 2 orang berjas hitam ke arahnya. Kemudian, ia membalik meja besar berbentuk persegi, lalu ia tendang ke arah 2 orang berjas hitam itu. Akan tetapi…

BUBRAKK!!

Meja tersebut hancur. Dari balik puing-puingnya, 2 Asura meloncat ke arah Ariel. 2 orang tadi rupanya telah berubah menjadi Asura.

Menyadari hal tersebut, Ariel maju dua langkah, lalu memutar tubuhnya. Tubuh Ariel berputar sangat kencang, bagai roda mobil yang tengah memacu gasnya.

Begitu jarak 2 Asura tadi sudah dekat dengan Ariel, tubuh mereka langsung terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Setelah itu meleleh menjadi pasir.

Tidak lama kemudian, Ariel berhenti berputar.

Dhinda berjalan menghampiri Ariel. “Riel, makasih yaa,” ucapnya.

Ariel hanya diam dan tak menggubris.

Ternyata disana ada Hanzo. Ia daritadi menyaksikan pertarungan tersebut. Kemudian, ia melompat dan tiba dihadapan Ariel dan Dhinda.

“Well.. Well.. Well.. Duet yang bagus. Anak buah saya semuanya berhasil kalian habisi,” ucap Hanzo.

“Orang itu.. Dia lagi,” gumam Ariel.

“Siapa kamu?” tanya Dhinda.

Aku Hanzo, makhluk abadi!” jawab Hanzo.

“Khuh! Abadi katamu?” dengus Ariel.

Hanzo melipat kedua tangannya di dada. “Sekarang … Karena kalian sudah menumbangkan anak buah saya, jadi kalian berdua lawan saya!”

“Biar aku aja, Riel!” ucap Dhinda. “Aku mau tahu, dia gede di mulut aja apa nggak.”

“Kalo begitu, maju!” ujar Hanzo.

Dhinda berjalan 2 langkah ke depan, memasang kuda-kuda `karate`, lalu maju menyerang Hanzo.

Pukulan pertama Dhinda gagal, meleset ketika Hanzo mengelak ke kanan.

Hanzo balas memukul Dhinda dan kena persis di wajahnya.

Dhinda terjatuh.

“Cuma segitu?” cemooh Hanzo.

“Hiiaat!!!” teriak Dhinda yang kemudian berdiri, lalu menyerang Hanzo.

Dhinda mengayunkan kepalan tinjunya persis ke wajah Hanzo. Namun, Hanzo mampu menghindarinya dengan mudah. Ia memutar bahu kanannya ke belakang. Setelahnya, ia menahan tangan Dhinda dengan punggung tangan kirinya. Dhinda lalu kembali menyerang Hanzo, kali ini dengan kepalan tangan kirinya. Sayangnya, lagi-lagi serangan tersebut luput.

Tidak mau menyerah, Dhinda kemudian mengayunkan tinju serta tapakan berulang kali pada Hanzo.

Tapi lagi-lagi, Hanzo dapat menepis dan mengelak dari semua serangan Dhinda.

Hanzo mengepal tinjunya kuat-kuat. Dan dengan satu pukulan di perut saja, Dhinda terjengkang beberapa langkah ke belakang.

“Dhinda!!” teriak Priska dan Jenny berbarengan.

Priska berlari ke arah Dhinda, kemudian berdiri di depannya sambil merentangkan kedua tangannya.

“Nggak ada yang boleh nyakitin sahabat gue!!” teriak Priska.

Hanzo maju menghampiri Priska. “Jadi dia sahabat kamu? Boleh juga kemampuannya. Tapi, dia nggak akan sanggup ngalahin saya.”

“Jangan mendekat!” teriak Priska. “Atau…”

“Atau apa?” tanya Hanzo yang kemudian mendekati Priska, lalu menarik tangan gadis itu, kemudian memukul tengkuknya hingga pingsan. “Satu sandera saja cukup,” ucapnya yang kemudian pergi, berlari dari tempat tersebut.

Ariel mengejarnya.

Hanzo berlari menuju mobil caravan berwarna putih yang berada tak jauh dari sana.

Begitu sudah masuk mobil, Hanzo mengikat Priska dengan tambang serta menutup mulut gadis tersebut dengan lakban.

“Kepancing juga dia. Cara saya nggak salah ternyata,” gumam Hanzo. Ia kemudian menstarter mobilnya.

Mobil pun melesat pergi dari tempat itu.

Ariel terlambat, Hanzo lebih cepat darinya.

Namun, ia segera mengeluarkan Wayphone dari saku celana sebelah kirinya, lalu menekan tombol `*5599#` kemudian tombol `Ok` pada benda tersebut.

Gambar motor sport nan `futuristik` muncul pada layar yang ada di benda itu. Motor sport itu tak lain ialah Waybringer.

Beberapa saat kemudian, Waybringer yang terparkir di dalam garasi rumah Ariel berubah menjadi serpihan-serpihan holograpichal. Serpihan-serpihan holograpichal tersebut menghilang lalu muncul di depan Ariel dan berangsur-angsur berubah menjadi Waybringer lagi.

Tak mau membuang waktu, Ariel segera mengantongi Wayphone kembali dan menaiki sepeda motor kesayangannya itu untuk mengejar Hanzo.

Ketika jarak motornya dan mobil Hanzo sudah dekat, Ariel menekan tombol `555` yang ada di dekat speedometer motornya.

Sisi bagian kanan pada Waybringer membuka. Sebuah tembakan `vulcan` keluar dari sana.

Ariel menekan tombol hijau yang berada di dekat tombol angka yang ditekannya tadi, kemudian memiringkan motornya ke sisi sebelah kanan.

Serentetan peluru langsung muntah dari vulcan di motor Ariel, mengarah persis ke ban sebelah kanan mobil Hanzo.

Hanzo yang melihat hal demikian dari kaca spion mobilnya, langsung banting setir ke kiri.

Mobil Hanzo selamat.

Beberapa saat kemudian, peluru kembali muntah dari vulcan motor Ariel, Waybringer, menuju ban mobil sebelah kiri Hanzo.

Kali ini, Hanzo membanting stir ke kanan, membuat mobilnya selamat sekali lagi.

Ariel menekan tombol hijau pada Waybringer sekali lagi sambil memiringkan motornya itu ke kanan. Peluru vulcan Waybringer kembali keluar, mengarah ke ban mobil Hanzo yang sebelah kanan.

Hanzo mengelak lagi. Ia membanting setir mobilnya ke kiri.

Suara decitan mobil Hanzo terdengar keras. Begitu pula dengan suara peluru vulcan milik Waybringer.

Ariel terus menembaki ban mobil Hanzo dengan vulcannya. Sementara Hanzo terus menghindar. Mereka terus begitu selama beberapa saat dan beberapa tikungan.

Sampai akhirnya, mobil Hanzo berhenti dekat sebuah pabrik tua nan kosong.

Hanzo turun dari mobilnya sambil membawa Priska dan berlari masuk ke dalam pabrik tersebut.

Di waktu yang hampir bersamaan, Ariel juga turun dari Waybringer.

Ariel masuk ke dalam pabrik itu. Ia melihat sekeliling. Tapi ia tidak menemukan Hanzo. Tidak lama kemudian…

“Ekhm!” Hanzo tiba-tiba muncul, keluar dari sebuah ruangan.

Ariel tersentak. Kepalanya menoleh ke kanan.

“Ariel Sadewa. Pemuda yang cukup hebat,” ucap Hanzo.

Dahi Ariel mengernyit. “Darimana kamu tahu nama saya?”

“Hahahaha. Cuma dengan menatap mata seseorang dengan seksama, saya bisa tahu data pribadi dan kehidupannya,” kata Hanzo. “Waktu kita bertarung, saya sempat natap mata kamu dengan seksama.”

“Kalo begitu dimana perempuan yang kamu bawa tadi?” tanya Ariel. Tatapan matanya yang dingin menajam.

“Dia nggak apa-apa, tenang saja. Dia ada di salah satu ruangan di pabrik tua ini. Saya bawa dia cuma untuk mancing kamu,” jawab Hanzo. “X-Storm!!” teriaknya kemudian.

Seorang pemuda berambut panjang dengan tubuh tinggi tegap serta berotot keluar dari salah satu ruangan. Ia mengenakan setelan baju lengan panjang warna putih yang bagian sebelah kirinya berlengan pendek. Celananya berwarna senada dengan baju. Lengan kirinya seperti lengan kiri `monster`. Di pinggangnya terselip samurai panjang dengan cabang gagang berbentuk huruf `X`. Pemuda itu berjalan secara perlahan menghampiri Hanzo, kemudian berdiri disampingnya.

“Ini!” Hanzo melemparkan sebuah kalung emas dengan bandulan berupa kristal persegi enam warna biru dengan ruby di tengahnya pada Ariel. Ariel menangkap kalung tersebut, lalu memperhatikannya dengan seksama.

“I-ini … Nggak salah lagi, kalung ini punya Kak Rieft yang diwarisin sama ayah! Kalung ini langka, cuma ada satu di dunia,” gumam Ariel. “Darimana kamu dapet benda ini?” tanyanya pada Hanzo.

“Benda itu punya orang yang ada di sebelah saya,” jawab Hanzo seraya menunjuk pemuda berambut panjang warna perak yang berdiri di sebelah kanannya dengan jempolnya.

“Apa???” Mata Ariel membelalak. Ia lalu memperhatikan ciri fisik orang disamping Hanzo itu dengan seksama, lalu bicara dalam hati, “Rambut perak dan mata biru itu … I-ini mustahil! Orang itu … Dia Kak Rieft! Nggak salah lagi! Walau sekarang rambutnya udah panjang. Tapi, gimana bisa??”

“Hahahahaha… Kenapa, Ariel Sadewa? Saya tidak berkata bohong, saya bicara kenyataan. Dan orang disamping saya ini, sekarang akan jadi lawan kamu!” ujar Hanzo. “X-Storm, habisi dia!!” perintahnya pada pemuda disampingnya.

Pemuda yang dipanggil X-Storm tersebut mengangguk, kemudian maju beberapa langkah ke depan. “Heeaaahh…!!” teriaknya, seraya meliukkan punggung sedikit ke belakang serta mengepalkan kedua tangannya.

“Kakak…,” gumam Ariel dengan nada lirih.

“Saya pergi dulu. Selamat menikmati jamuan dari saya, tamu spesial. Hahahahaha…” Hanzo lalu melompat ke lubang persegi berukuran besar yang ada di atap dan kemudian pergi.

“Kak Rieft … Saya mohon, sadar kak…,” ucap Ariel. “Saya ini Ariel, Ariel Sadewa. Adik kamu.”

“Saya nggak pernah punya adik. Dan nama saya ‘X-Storm’! Ingat itu!” ujar X-Storm sembari menunjuk Ariel.

“Tapi kalung ini!” Ariel mengangkat lengan kanannya, seraya menunjukkan kalung yang ia pegang pada X-Storm. “Ini punya kamu dari ayah. Cuma kamu yang punya kalung ini, kak!”

“Ayah??” X-Storm mengernyitkan dahinya. “Saya nggak punya ayah, dan saya nggak tahu siapa yang ngasih kalung itu. Tapi yang jelas, Hanzo pernah bilang, kalung itu punya pengaruh buruk buat saya, makanya dia ambil. Dan sekarang, kamu boleh ambil kalung itu! Oh iya, berenti panggil saya kakak! Kita nggak ada hubungan apa-apa. Kamu itu lawan saya, dan saya lawan kamu. Jelas?”

“Kakak! TOLONG SADARLAH!!” teriak Ariel.

“Diam!” balas X-Storm yang kemudian mengarahkan telapak tangan kirinya ke depan.

Bagian biru di telapak tangan kiri X-Storm tiba-tiba menyala terang, begitu pula bagian biru berbentuk huruf `X` di punggung tangannya, serta kuku-kuku jarinya. Setelah itu, muncul cahaya bundar berwarna biru seukuran telapak tangannya. Cahaya bundar tersebut diselimuti oleh petir yang menyambar-nyambar.

“Thunder!!” teriak Rieft. Saat itu juga, cahaya biru bundar berpetir tersebut langsung melesat ke arah Ariel.

Terkesiap, Ariel pun menghindarinya dengan melompat ke kanan. Alhasil, cahaya biru bundar tersebut mengenai tembok hingga bolong.

X-Storm mencabut pedang bergagang putih dengan cabang gagang berbentuk huruf `X` yang berada dalam sarung putih yang tersampir di pinggang sebelah kanannya. Setelah itu ia berlari menuju Ariel.

Begitu X-Storm jaraknya dan Ariel sudah dekat, ia langsung menebaskan pedangnya ke tubuh Ariel.

Untungnya, Ariel bisa menghindari serangan tersebut dengan memutar bahu kirinya ke belakang. X-Storm kembali menebaskan pedangnya. Ia melakukan tebasan datar ke arah kepala Ariel.

Ariel yang sudah membaca pola serangan X-Storm segera merunduk. Walhasil serangan X-Storm meleset.

Akan tetapi, X-Storm yang melihat celah pada pertahanan Ariel segera menendang perut pemuda itu sekuat tenaga. Hal demikian membuat tubuh Ariel meliuk sedikit ke belakang.

Memanfaatkan kesempatan yang ada, X-Storm langsung meninju perut Ariel dengan lengan kirinya sekuat mungkin.

Ariel yang tidak siap menerima serangan itu pun mencelat ke belakang. Tubuhnya menubruk tembok hingga bolong. Ia terlempar ke luar pabrik dan terguling-guling begitu tubuhnya menyentuh tanah.

Setelah tubuhnya berhenti berguling, Ariel berusaha bangkit sembari memegangi perutnya yang sakit bukan main sekaligus menahan rasa sakit di punggungnya.

“Ahakh!” Ariel muntah darah. “Ku-kuatnya…,” gumamnya.

X-Storm keluar dari pabrik melalui salah satu pintu yang ada disana. Ia berjalan perlahan menghampiri Ariel yang baru setengah bangkit.

“Cuma segitu kemampuan kamu, Ariel?” tanya X-Storm yang sudah berjarak beberapa hasta dari Ariel dengan nada dingin.

“Kakak, tolong jangan paksa saya!” pinta Ariel.

X-Storm tersenyum miring. “Saya nggak peduli. Lawan saya, atau kamu akan mati!”

“Geh ….” Ariel kembali muntah darah.

X-Storm maju beberapa langkah lagi, kemudian ia menarik kerah baju Ariel dengan lengan kirinya sehingga Ariel berdiri dengan sempurna.

“Dasar lemah!” cemooh X-Storm, sebelum akhirnya meninju perut Ariel sekali lagi dengan lengan kirinya.

Ariel langsung terpental ke belakang, ke arah rumah kosong kecil yang jaraknya tak jauh dari tempat X-Storm berpijak. Tubuhnya menabrak kaca rumah itu hingga pecah dan ia pun masuk ke dalamnya.

“Thunder!! Thunder!! Thunder!!” teriak X-Storm seraya meluncurkan bola cahaya biru berpetir dari telapak tangan kirinya sebanyak 3 kali dan mengarahkannya ke lima jejer drum minyak yang ada di depan rumah tempat Ariel terpental.

BUOOMM!! BUOOMM!! BUOOMM!! BUOOMM!! KWABOOMM!!!

Lima drum minyak yang ada di depan rumah tersebut meledak. Dan akibat dari ledakan itu, tembok rumah tersebut rusak parah dan rumah itu kebakaran.

“Khuh! Cuma segitu aja kemampuannya,” ucap X-Storm yang kemudian membalikkan badannya.

Namun, baru selangkah saja X-Storm berjalan, ia berhenti karena mendengar sesuatu di belakangnya.

Begitu X-Storm memutar tubuhnya ke belakang, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah `Waysteel` yang sedang berdiri tegak di kobaran api sambil memegang `Dhamarwulan` di tangan kanannya.

“Apa itu??” gumam X-Storm kebingungan. “Siapa kamu?” tanyanya pada Waysteel.

“Panggil saya Waysteel. Wayang … Baja,” ujar Waysteel.

“Waysteel??” X-Storm mengeryitkan dahinya.

“Ya. Apa yang kakak lakuin tadi maksa saya bertindak sejauh ini,” ucap Waysteel.

“Kakak??” X-Storm berfikir sejenak, sebelum akhirnya bertanya, “Apa kamu Ariel Sadewa?”

“Tepat,” jawab Waysteel.

“Hoo… Begitu rupanya. Ternyata kamu punya wujud lain. Ini akan jadi menarik,” kata X-Storm.

“Kalo begitu, karena kakak udah maksa saya, saya nggak keberatan lanjutin pertarungannya,” ucap Waysteel.

“Bagus!” ujar X-Storm. “Saya juga punya wujud lain. Dan sekarang, saya akan memakainya. Bersiap-siaplah!”

Dari balik helm Waysteel-nya, Ariel menatap tajam.

X-Storm mengangkat lengan kirinya setinggi wajah, sebelum akhirnya mengepalkan jarinya dan berteriak, “X-Storm Armor!!”

Bagian biru yang berbentuk huruf `X` di punggung tangan X-Storm menyala terang. Kemudian tubuhnya tertutup cahaya biru nan menyilaukan. Tak lama, cahaya itu meredup dan tubuh X-Storm pun berubah. Tubuhnya kini diselimuti baju baja berwarna dominan putih dan biru di beberapa bagiannya. Bagian biru tersebut bentuknya seperti kaca, terdapat di kedua lutut, tangan kanan, serta beberapa bagian lainnya. Kaca helm pakaian pelindung itu juga berwarna biru, dan di bagian atas helm tersebut, terdapat sepasang tanduk pipih. Lalu di bagian dadanya ada lambang seperti huruf `X` berwarna biru pula. Yang tidak berubah dari X-Storm hanya lengan kiri dan senjatanya saja.

X-Storm Armor

x-storm

“Ternyata dia sama kayak Strong,” gumam Waysteel.

Mari, kita mulai pertarungannya!” ucap X-Storm seraya memasang kuda-kuda dan perlahan menyerong beberapa langkah ke kiri.

Waysteel pun demikian, ia memasang kuda-kuda, dan perlahan menyerong beberapa langkah, namun ke kanan.

“Thunder!! Thunder!! Thunder!!” X-Storm menembakkan 3 bola cahaya biru berpetirnya ke arah Waysteel.

Sadar akan serangan yang datang, Waysteel pun menebas bola cahaya biru tersebut satu persatu.

“Heaaaaahh!!” Di waktu yang hampir bersamaan, X-Storm berlari ke arah Waysteel sembari mengangkat pedangnya.

Untung saja Waysteel bergerak cepat, ketika jarak X-Storm sudah dekat, tebasan pedangnya mampu ia tangkis dengan Dhamarwulan, hingga berdentang keras TRANKKK!!! Dan menimbulkan percikan api.

Setelah itu, mereka berdua kembali mengayunkan pedangnya.

TRANK!! TRINK!! TRANK!! TRINK!!

Adu pedang yang sengit terjadi diantara mereka berdua. Mereka berdua mengayunkan pedang beberapa kali dan saling beradu pedang. Masing-masing dari mereka mengeluarkan jurus-jurus yang sangat apik. Debu beterbangan akibat gesekan kaki mereka

Sesekali, Waysteel mengelak menghindari pukulan tangan kiri X-Storm yang berbahaya dan ia segera membalasnya dengan ayunan Dhamarwulan beberapa kali ke arah X-Storm yang membuat X-Storm kerepotan.

Ketika tebasan besar Waysteel mengarah padanya, dengan sigap X-Storm melompat mendatar ke belakang menghindari tebasan tersebut.

X-Storm terdiam sembari berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah.

“Boleh juga dia sekarang,” gumam X-Storm, sebelum akhirnya ia berlari dengan kecepatan tinggi ke hadapan Waysteel.

Melihat hal demikian, Wasteel kembali memasang posisi siaga.

TRANK!! TRINK!!

Pedang Waysteel dan X-Storm beradu lagi. Jurus-jurus maut kembali mereka keluarkan selama`beberapa saat`.

TRANKK!!

X-Storm terseret ke belakang menahan kekuatan Dhamarwulan milik Waysteel. Namun kemudian, X-Storm menghentakkan pedangnya yang beradu dan itu membut Waysteel sedikit terpental ke belakang.

Memanfaatkan kesempatan yang ada, X-Storm langsung meninju dada Waysteel dengan tangan kirinya. Waysteel yang tidak siap menangkis pun terlempar cukup jauh dari posisi awalnya lalu menubruk pohon.

“Egh …,” Waysteel yang sudah setengah bangkit mengusap dadanya yang sakit. “Bahaya tangan kirinya.”

” X-Storm berdiri tegak dan tersenyum sinis dari balik helmnya. “Khuh!” dengusnya.

“Oke kalo begitu.” Wasteel kemudian menekan tombol merah yang ada di sebelah kiri sabuknya.

`Highspeed Activated!`

Mata sabuk Waysteel baru saja mengeluarkan suara.

Dalam sekejap, Waysteel langsung lenyap dari pandangan X-Storm.

“Hah?? Kemana dia??” X-Storm kebingungan.

Tiba-tiba, X-Storm merasakan tubuhnya ditebas berulang kali dengan kecepatan di luar batas. Kemudian, X-Storm merasakan perutnya dihantam oleh sesuatu yang membuatnya terpental jauh ke belakang.

Belum cukup sampai disitu, X-Storm ditebas lagi dari segala arah dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya. Sampai akhirnya, X-Storm terlempar, membentur tembok pabrik hingga hancur dan ia masuk ke dalamnya serta terguling-guling.

`Highspeed Over!`

Terdengar suara rekaman digital, dan Waysteel kembali dapat dilihat oleh pandangan mata.

Di saat yang hampir sama, X-Storm sudah kembali berdiri walau sempoyongan dan tubuhnya berasap-asap.

“Sial,” geram X-Storm sambil memegangi perutnya.

“Kakak yang maksa saya,” ucap Waysteel yang berdiri tegak memandang X-Storm yang jaraknya agak sedikit dekat.

“Baiklah ….” X-Storm lalu mengangkat lengan kirinya setinggi wajah, sebelum akhirnya mengepalkannya sembari berkata, “Invisible.””

Bersamaan dengan itu, tanda `X` yang ada di punggung tangan X-Storm pun menyala terang, dan tubuh X-Storm pun menghilang dari pandangan mata.

“Ah?!” Waysteel terkejut.

Tak berselang lama, tubuh Waysteel seperti ditebas berkali-kali dari segala arah dan tidak diberi kesempatan untuk bernafas.

Lalu, dagu Waysteel dihantam keras oleh sesuatu yang tidak terlihat sampai ia terpelanting ke atas, kemudian ia di hantam lagi ke bawah dan jatuh ke lantai sampai lantai tersebut retak dan berjejak seukuran tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, X-Storm kembali terlihat, dan berada persis di depan Waysteel.

Waysteel terpojok. Ia sudah tak mampu melanjutkan pertarungan.

X-Storm berdiri menatapnya, lalu mengayunkan pedangnya, bersiap menyarangkan sabetan besar pada Waysteel.

Waysteel hanya bisa pasrah.

Namun, tiba-tiba X-Storm mengerang kesakitan. Pedangnya terjatuh ke lantai. Ia memegangi kepalanya sambil mengerang dengan tubuh sempoyongan.

Tak lama, tubuh X-Storm menghilang. Bersamaan dengan itu, pedangnya yang tergeletak di lantai juga menghilang.

Waysteel selamat. Tapi ia harus kehilangan kakaknya sekali lagi.

“Kakaakkk!!!” teriak Waysteel yang sudah setengah bangun dan dalam posisi berlutut. Ia mengepal tangannya kuat-kuat, kemudian meninju lantai hingga bolong. “Kenapa?? Kenapa harus kayak gini?? KENAPA???” Dari balik topengnya, Ariel meneteskan air mata.

Waysteel kemudian membuka penutup kecil yang ada di lengan kanannya dan menekan tombol disana, membuat lampu led yang ada disamping tombol itu menyala dan mengeluarkan suara rekaman digital, `Armor System Deactivated!`

Spontan, armor yang dikenakan Ariel berubah menjadi transparan, lalu masuk ke dalam lampu yang ada di gagang Dhamarwulan. Setelah itu, ia mencabut Waysteel Digital Memory yang tertancap di atas gagang pedangnya tersebut dan mengantonginya di saku belakang celananya.

Waysteel telah kembali ke wujud Ariel.

Ariel kemudian mengambil Wayphone di dalam saku celana sebelah kirinya, lalu menekan tombol `111` dan dilanjutkan dengan tombol `Ok` pada benda itu. Seketika, layar Wayphone menampilkan gambar sarung pedang Dhamarwulan. Tak lama, di depan Ariel muncul serpihan-serpihan holograpichal yang kemudian berubah menjadi sarung pedang Dhamarwulan.

Ariel mengambil sarung pedang tersebut, menyisipkan Dhamarwulan ke dalamnya, lalu menyembunyikan pedang tersebut dibalik jasnya. Setelah itu, ia berdiri, kemudian memeriksa setiap sudut ruangan untuk mencari dimana Priska disembunyikan.

Sampai akhirnya, di salah satu ruangan, Ariel menemukan Priska tengah tergeletak tak sadarkan diri di pipa besi yang besar dengan tubuh yang terikat oleh tali tambang. Ariel langsung menghampirinya. Ia membuka tali tambang yang mengikat tubuh Priska, lalu membuka lakban yang memplester mulut gadis itu.

Perlahan-lahan Ariel mengguncang-guncang tubuh Priska.

Kelopak mata Priska mulai terbuka pelan-pelan. Pandangan yang pertama kali ia lihat ialah sosok Ariel yang sedang memandang dirinya.

Priska langsung terkejut. Ia yang sudah sadar dari pingsannya segera duduk dan mundur menjauhi Ariel dengan cepat, kemudian bertanya, “Ariel?? Kok lo bisa ada disini?? Lo nggak ngapa-ngapain gue kan??”

“Bagus kalo kamu udah sadar.” Ariel berdiri, kemudian membelakangi Priska. “Ayo pulang!”

“Heh! Lo nggak ngapa-ngapain gue kan??” Priska mengulang pertanyaannya.

“Khuh!” dengus Ariel. “Buat apa?” Suaranya terdengar berat dan berwibawa.

“Bagus deh kalo gitu.” Priska lalu berdiri.

“Mau pulang bareng?” tanya Ariel tanpa menoleh ke arah Priska.

“Nggak usah!” tolak Priska. “Gue pulang sendiri aja.”

“Yaudah,” balas Ariel yang kemudian berjalan meninggalkan Priska.

Ariel berjalan ke arah luar. Sesampainya di luar, ia langsung menaiki Waybringer, menstarternya, dan melesat pergi dari tempat tersebut.

 =***=

Part 3 End

Nantikan kelanjutan ceritanya Minggu 30 Oktober 2016, pukul 07 atau 08 malam.

Iklan
Standar

2 thoughts on “Waysteel: Wayang Baja (Indonesian Superheroes) ~Part 3

  1. yah, tingkat ke songongan ariel udah mulai berkurang aja. padahal masih diawal cerita. mngkin aku aja yg suka scene saat ariel ngacangin trio pelangi. dan baru bisa mulai lebih baik pada mereka ditengah atau mendekati akhir cerita.

    abaikan yang di atas.

    secara pribadi, ceritanya sudah bagus sih dan mudah di ikuti. adegan pertaungan juga bisa langsung terbayang di kepala. aku nunggu chapter selanjutnya aja

    Suka

    • Pas baca ulang saya juga mikir gitu, tingkat kesongongan Ariel mulai berkurang, apa karna dia nanggepin Dhinda ya? Kalo menurut kamu gimana?

      Thx Zo reviewnya (bales komennya di Facebook aja)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s