Novel Superhero Indonesia, Novel Tokusatsu Indonesia, Superhero Indonesia, Tokusatsu Indonesia

Waysteel: Wayang Baja (Indonesian Superheroes) ~Part 4

Sesampainya di rumah, Ariel masuk ke Wayang Base. Ia menaruh Waysteel Digital Memory ke dalam sebuah kotak kecil, yang mana kotak tersebut tersambung dengan selang yang menempel pada sebuah tabung kaca besar. Kemudian ia menekan tombol merah yang ada pada kotak itu.

Selang yang tersambung pada kotak tersebut mengeluarkan cahaya terang. Cahaya itu menyinari Waysteel Digital Memory, membuatnya mengeluarkan serpihan-serpihan `holograpichal` yang kemudian masuk ke dalam selang.

Tidak lama setelahnya, serpihan-serpihan holograpichal itu berkumpul di dalam tabung kaca, lalu membentuk sebuah pakaian pelindung berwarna dominan hitam: Armor `Waysteel` milik Ariel.

Ariel lalu menekan tombol biru yang ada di tabung kaca.

Sinar putih langsung keluar dari atas tabung, menyinari armor.

Tak berselang lama, goresan-goresan yang ada pada armor berangsur-angsur pulih, hingga hilang sama sekali.

Setelah itu, Ariel keluar dari tempat tersebut menuju kamarnya. Di kamarnya, ia duduk-duduk di kasur, melepas lelah.

Beberapa saat kemudian, Maritha datang sambil membawa segelas susu hangat.

“Tuan Ariel, kok pintu kamarnya nggak dikunci?” tanya Maritha.

“Lupa,” jawab Ariel.

“Orang-orang yang bikin pesta kacau tadi bener-bener keterlaluan! Nggak tahu apa kalo bikinnya susah?!” kata Maritha kesal. “Ngomong-ngomong, tadi saya liat tuan ngejar salah satu dari mereka. Sampe mana?”

“Sampe pabrik tua,” jawab Ariel. “Oh iya, mbak, kakak masih hidup.”

“Apa???” Maritha membelalak.

“Saya baru aja ngelawan dia. Dia kuat banget, mbak.”

“Tapi gimana bisa Tuan Rieft masih hidup??”

Ariel memegang pundak Maritha dan menatap matanya. “Mbak, di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin kalo Tuhan berkehendak. Kakak emang betul masih hidup! Tapi kayaknya dia kena pengaruh cuci otak. Masa iya dia tega ngelawan saya??”

“Cuci otak??” Maritha mengernyitkan dahinya.

“Iya mbak. Dia jadi nggak kenal siapa saya,” ucap Ariel.

“Tapi siapa yang ngelakuin itu??” tanya Maritha.

“Dark Rhapsody, organisasi penyembah setan. Baru Strong sama Hanzo aja yang saya kenal. Dan yang ngacauin pesta tadi Hanzo sama anak buahnya,” jawab Ariel.

“Strong sama Hanzo??”

“Ya. Dan Hanzo yang bikin putus tangan kakak 13 tahun yang lalu.”

“Tapi saya ngerasa ada yang aneh. Kenapa Dark Rhapsody ngelakuin semua itu, sementara dulu dia udah nyelakain Tuan Rieft?”

“Saya rasa Dark Rhapsody punya tujuan tertentu. Salah satunya, manfaatin kakak. Tangan kakak yang udah putus aja sekarang udah berganti jadi tangan aneh, bentuknya kayak tangan `monster`.” Ariel kemudian mengambil susu yang diletakkan Maritha di atas meja dan meminumnya.

“Terus apa rencana Tuan Ariel selanjutnya?” tanya Maritha.

“Saya akan hancurkan penjahat kayak Dark Rhapsody dan ngelepasin pengaruh cuci otak kakak, apapun caranya!” jawab Ariel.

=***=

Markas Dark Rhapsody, Sabtu 02 Mei 2020, pukul 00:30 WIB.

Di salah satu ruangan, Hanzo berdiri menatap X-Storm yang ada di dalam tabung kaca berisi air warna biru. Di ruangan itu, ia ingat ketika Ratu Gagak memperlihatkan proyeknya.

-Flashback-

Kala itu Ratu Gagak mengajak Hanzo dan Strong ke ruangan khusus yang ada di markas Dark Rhapsody untuk memperlihatkan sesuatu.

Sesampainya di ruangan itu, Hanzo dan Strong langsung membelalak ketika melihat seorang bocah yang ada di dalam tabung kaca berisi air biru yang ditunjukkan Ratu Gagak.

“D-d-dia kan-”

Kata-kata Strong terputus begitu kakinya diinjak oleh Hanzo.

“Kenapa?” tanya Ratu Gagak.

“Ratu Gagak, saya izin sebentar ya, mau ngomong sesuatu sama Strong,” kata Hanzo.

“Mau ngomongin apa?” tanya Ratu Gagak.

“Ngomongin hutang,” jawab Hanzo.

“Oke,” balas Ratu Gagak.

Hanzo memegang bahu Strong lalu membawanya menjauh dari Ratu Gagak.

“Kamu jangan sampai bilang ya kalo anak yang ada di dalam tabung itu anak yang kita habisi kemarin!” bisik Hanzo.

“Iya, tapi jangan main injak kaki saya gitu dong!” balas Strong.

“Habisnya kamu hampir saja bilang tadi, hampir keceplosan. Pokoknya, jangan sampai Ratu Gagak tahu, oke? Bisa habis kita sama dia.” Hanzo kembali berbisik.

Strong mengangguk. “Tenang saja.”

Setelah itu, Hanzo dan Strong kembali berdiri di dekat Ratu Gagak.

“Sudah?” tanya Ratu Gagak pada Hanzo.

“Sudah, Ratu,” jawab Hanzo.

“Jadi, itulah proyek `Ksatria Rhapsody` yang dulu pernah saya bilang, sekarang sudah terwujud. Otak anak itu sudah saya cuci, agar cuma tunduk pada perintah Dark Rhapsody,” kata Ratu Gagak.

“Ngomong-ngomong, darimana Ratu Gagak mendapatkan anak itu?” tanya Hanzo.

“Pas saya jalan-jalan, saya nemuin dia,” jawab Ratu Gagak. “Saya nolong dia yang lagi diserang binatang buas. Kebetulan banget tangan kirinya buntung, cocok sama proyek Ksatria Rhapsody saya. Yaudah saya bawa pulang.”

“Ooh….” Hanzo mengangguk pelan. “Tahu gitu saya biarkan saja Strong keceplosan tadi,” keluhnya dalam hati.

Setelah itu, Ratu Gagak berjalan menghampiri tabung kaca (yang di dalamnya ada seorang bocah), mengeluarkan bocah di dalamnya, lalu memakaikannya pakaian.

Bocah itu sudah siap sekarang.

“Hebat … Tangan kirinya yang putus sekarang berganti jadi tangan kiri yang keren,” ucap Hanzo kagum melihat bocah itu yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.

“Siapa namamu?” tanya Ratu Gagak pada bocah itu.

“Aku X-Storm,” jawab sang bocah.

“Hahahahaha… bagus bagus,” tawa Ratu Gagak. “X-Storm singkatan dari Bahasa Inggris Xtraordinary Storm, artinya badai luar biasa. Saya mau dia sekuat badai yang luar biasa.”

“Wow! Namanya keren!!” ucap Strong.

X-Storm memegang bandul kalung yang melingkar di lehernya.

“I-ini …,” gumam X-Storm. “Ayah ….” Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.

Beberapa saat kemudian, X-Storm memegangi kepalanya. Kepalanya terasa sakit sekali hingga ia berteriak-teriak, beberapa kali menyebut kata “Ayah”.

Ratu Gagak panik. Ia berusaha menenangkan X-Storm, tapi sia-sia.

Sampai akhirnya, Hanzo mengambil kalung yang melingkar di leher X-Storm, kemudian memukul tengkuk X-Storm hingga bocah itu pingsan.

“Kenapa dia, Hanzo?” tanya Ratu Gagak.

“Ada yang aneh setelah dia melihat kalung ini,” jawab Hanzo seraya menunjukkan kalung milik X-Storm yang dipegangnya. “Ini kan kalung Eternal, kalung termahal, cuma ada satu di dunia. Kenapa dia pusing setelah melihat kalung ini, ya?”

“Coba kamu periksa kenapa dia begitu!” perintah Ratu Gagak.

Hanzo lalu memperhatikan kalung yang dipegangnya dan juga mata X-Storm secara seksama, setelah itu memejamkan mata dan berkonsentrasi.

Beberapa saat kemudian, Hanzo kembali membuka matanya.

“Kalung ini bahaya!” ucap Hanzo. “Kalung ini bisa melepas Pengaruh cuci otaknya, karena ada momen penting yang bisa dia ingat kalo melihat kalung ini. Kalung ini peninggalan ayahnya yang sudah meninggal.”

“Jadi gimana? Saya lupa lepas kalung itu pas cuci otak dia, soalnya saya nggak tahu.”

“Gimana kalo kalung ini buat saya saja! Bahaya kalo masih ada di dia.”

“Oke!” balas Ratu Gagak.

“Licik kamu, Hanzo,” selak Strong. “Kalung kayak gitu saya juga mau.”

“Hahahaha… Siapa cepat dia dapat!” ujar Hanzo.

Tiba-tiba, X-Storm yang tadi pingsan kembali bangun dan menanyakan kalungnya. Hanzo langsung menjelaskan pada X-Storm kalau kalung itu berbahaya untuknya, dan kalung itu sekarang jadi milik Hanzo. X-Storm pun mengiyakannya.

Akan tetapi, apa yang dilakukan Hanzo tidak membantu banyak. Ingatan X-Storm sering ingin kembali lagi secara mendadak. Tentu saja itu membuat Dark Rhapsody kerepotan. Begitu X-Storm dewasa dan selesai dilatih oleh Dark Rhapsody, ia tetap mengalami hal yang sama: Sakit kepala dan ingatannya ingin kembali.
Hal tersebut membuat Ratu Gagak gerah dan akhirnya menciptakan sebuah alat berbentuk kaca yang jika X-Storm sakit kepala dan ingatannya ingin kembali, kaca itu akan bergetar serta memunculkan gambar dimana lokasi X-Storm. Dan, hanya dengan satu mantera saja, X-Storm akan terteleportasi ke tempat si pemegang kaca untuk kemudian dicuci kembali otaknya di dalam tabung kaca. Ratu Gagak mempercayakan Hanzo sebagai pemegang kaca itu.

-Flashback selesai-

Dan sekarang, hal itu dimanfaatkan oleh Hanzo untuk menyerang Ariel. Dengan kekuatannya, dia bisa tahu kalau Ariel ialah adik dari X-Storm yang ternyata adalah `Rieft Sadewa`. Bagi Hanzo, kekuatan dan kelemahan sejati manusia terletak pada hatinya. Maka dari itu, dia menyerang hati Ariel dengan caranya sendiri. Ia ingin membuat Ariel lemah, setelah itu akan lebih mudah diserang. Baginya, tak mengapa kehilangan kalung Eternal, asal tugasnya terselesaikan dengan sempurna.

=***=

Univ. Cahaya Sakti, Senin 04 Mei 2020, pukul 06:30 WIB.

“Kyaaaahh Arieeell!!!”

“Arieeeelll!!!”

Para gadis menjerit histeris tatkala Ariel mendribble bola basket ke gawang lawan, dan kemudian memasukkannya ke dalam keranjang.

“KYAAAAHHH!!!” Para gadis kembali menjerit histeris, kali ini lebih keras.

“Norak amat sih tuh cewek-cewek!? Baru pertandingan biasa aja sampe segitunya,” kata Priska yang kebetulan lewat bersama dua orang temannya, Dhinda dan Jenny.

“Tapi Ariel emang keren tahu, Pris, maen basketnya. Nggak ada satupun orang yang bisa ngerebut bola dari dia,” ucap Dhinda.

“Jangan-jangan lo suka lagi Dhin sama si Ariel?!” tebak Jenny.

“Jenny… Aku tuh cuma kagum sama dia. Lagian kita nggak harus ngebenci dia juga kan? Sekali-kali baik sama dia nggak ada salahnya. Lagipula kita juga udah diundang ke ultahnya dia,” jawab Dhinda.

“Lo kalo suka jujur aja, Dhin. Nggak usah banyak banyak alesan!” ucap Jenny dengan nada sarkastik.

“Sekali lagi, gue cuma kagum! Ngerti?” tepis Dhinda.

“Ck!” Priska mendesah. “Udah-udah! Mendingan kita ke mading yuk! Gue mau liat hasil ujian praktek waktu itu.”

“Yaudah yuk!” timpal Jenny.

Dan mereka bertiga pun pergi dari tempat itu menuju mading.

Di mading…

“Gue dapet nilai berapa yaa…?” ucap Priska, seraya melihat-lihat nilai yang tertulis pada sebuah kertas yang tertempel di mading.

Tak lama, Priska menemukan namanya di kertas itu.

“Nah, ini gue nih. Nilainya 9,5.” ucap Priska. “Yaaahh tapi peringkat kedua.” keluhnya. “Peringkat pertamanya … A.. ARIEEELL!!!” teriaknya terkejut begitu ia melihat nama `Ariel Sadewa` ada diatas namanya dengan nilai `10`.

“Lo kenapa Pris??” tanya Jenny.

“Ariel dapet peringkat pertama ujian praktek, terus nilainya 10 pula,” jawab Priska.

“Coba liat!” Jenny kemudian ikut melihatnya. “Eh, iya nih!” ucapnya, ia tersentak setelah melihat kertas hasil ujian praktek tersebut. “Dia lagi, dia lagi…”

“Gue heran sama tuh anak! Ini bisa. Itu bisa. Dari planet mana sih dia??” keluh Priska.

Di kelas, Priska pun dibuat kesal. Setiap ia menjawab pertanyaan yg diajukan Dosen, jawabannya selalu dibetulkan oleh Ariel yg baginya amat sangat sok tahu.

Hingga ketika jam istirahat tiba, Priska menghampiri Ariel yang tengah berdiri di dekat lapangan, menonton anak-anak latihan basket.

“Heh! Jangan bangga ye, Riel, sama semua kemampuan yang lo punya!” kata Priska.

“Buat apa banggain hal wajar?” balas Ariel dingin. Tatapan matanya yang datar hanya menatap ke depan, tidak menatap lawan bicaranya sedikitpun.

“Halah, gue NGGAK PERCAYA!” Priska meninggikan nada bicaranya pada kalimat `NGGAK PERCAYA`. “Dan satu lagi, jangan lo pikir dengan lo ngundang gue di acara ultah lo dan lo nolong gue semalem, gue bakal simpatik gitu aja sama lo!? Asal lo tahu, cowok baru gue jauh lebih hebat dibanding lo! Dia itu dokter. Dia ganteng, jenius, pinter berantem, ramah, baik hati, terus nggak sombong! Temennya banyak, lagi! Nggak kayak lo. Lo punya temen aja nggak!”

“Seenggaknya … Saya nggak bergantung sama siapa-siapa,” balas Ariel dengan nada dingin seperti tadi.

“Haha! Hidup lo tuh pasti kesepian abis!”

“Nggak tuh. Kalo cuma pacar, saya juga punya. Dan dia, jauh lebih baik dibanding kamu.”

“Apa??” Priska terkekeh. “ `Manusia kulkas` kayak lo gimana bisa punya pacar?? Nggak percaya deh gue!”

“Perlu bukti?” tanya Ariel.

“Oke! Lo tunjukkin pacar lo itu ke gue! Gue juga bakal tunjukkin pacar gue ke elo! Kita Double Date! Gimana?” tantang Priska.

“Boleh,” jawab Ariel.

“Nanti malem, lo gue tunggu di bangku taman kota. Kalau elo sampe nggak dateng, lo akan gue cap tukang BULLSHIT! Dan bakal gue umumin ke seluruh anak-anak kampus!” ujar Priska.

“Setuju!” balas Ariel.

“Oke! Gue tunggu nanti malem! Jam 8!”

Sepulangnya dari kampus, Ariel pergi ke sebuah apartemen mewah yang ada di Kota Sheraton. Tujuannya adalah kamar nomor 69.

Begitu sampai tujuan, Ariel menekan bel kamar itu.

Tak lama, dari dalam kamar, keluarlah sesosok gadis berambut panjang sebahu dengan pakaian lengan buntung berwarna oranye. Ia memiliki mata yang `indah` dengan warna biru. Hidungnya yang mancung membuat parasnya semakin elok. Bibirnya yang dibalut lipgloss pink memberikan kesan sensual. Apalagi kulitnya putih mulus, membuat siapapun betah memandangnya.

“Ariel??” Gadis itu terkejut. “Yuk masuk!”

Ariel pun masuk mengikuti gadis itu.

Namun, Ariel bukanlah satu-satunya tamu di kamar tersebut. Ada pemuda lain tengah duduk di atas sofa empuk berwarna hitam.

Tak lama, pemuda berbadan kekar dan berambut `mohawk` itu berdiri dari sofa. Ia mendekati gadis yang tadi membukakan pintu untuk Ariel.

“Leira, aku pergi dulu ya?! Ada urusan,” ucapnya.

“Oh, yaudah. Hati-hati yaa…,” balas si gadis, yang diketahui bernama `Leira`.

Pemuda itu kemudian keluar.

“Ayo, Riel, duduk!” kata Leira.

Ariel pun duduk di sofa empuk berwarna hitam tersebut.

“Bentar ya, Riel, aku bikinin minum dulu,” ucap Leira. Ia Lalu pergi dari hadapan Ariel menuju ruangan lain.

Tak lama, Leira kembali sambil membawa segelas es jeruk.

“Oh iya, ada perlu apa Riel kesini??” tanya Leira yang kemudian menghidangkan es jeruk itu pada Ariel dan ikut duduk. “Aku kira kamu nggak bakalan kesini lagi.”

“Saya mau minta tolong, boleh?”

“Boleh boleh. Biarpun kamu sama aku udah nggak ada hubungan apa-apa, tapi aku bersedia nolong kamu. Ngomong-ngomong, mau minta tolong apa?” tanya Leira.

“Sebelumnya, cowok yang tadi itu siapa? Kok kamu berduaan disini sama dia? Nggak takut diapa-apain?” Ariel balik bertanya.

“Cowok yang barusan duduk disini? Itu pacar aku,” jawab Leira.

“Ooh. Kirain siapa.”

“Jadi? Mau minta tolong apa?”

“Saya cuma mau minta tolong sama kamu buat pura-pura jadi pacar saya.”

“Apa?? Pura-pura jadi pacar??” Leira terkejut, kemudian tertawa kecil. “Hahaha… Ariel… Ariel. Kamu tuh ada-ada aja. Emang buat apa aku pura-pura jadi pacar kamu?”

“Kamu nggak mau?” tanya Ariel.

“Bukannya begitu, Riel… Aku cuma ngerasa aneh plus lucu aja. Ini bukan kamu yang biasanya,” jawab Leira.

“Saya ditantang sama temen sekampus buat double date. Makanya saya minta tolong sama kamu,” ucap Ariel.

“Double Date?”

Ariel mengangguk.

Leira menatap mata Ariel lekat-lekat. “Ariel… Jangankan pura-pura, beneran jadi pacar kamu lagi juga aku mau. Aku masih sayang Riel sama kamu, biarpun sekarang aku udah punya pacar. Jujur, aku ngerasa nggak sanggup kehilangan kamu. Aku rela mutusin cowok yang tadi itu demi kamu.”

Ariel hanya diam.

“Riel … Apa kamu mau balikan sama aku?” tanya Leira.

3 detik kemudian, Ariel menjawab dengan nada dingin, “Nggak. Saya kesini cuma mau minta tolong aja sama kamu, nggak lebih.”

Leira tertunduk. “Oh, nggak mau ya..? Yaudah, nggak apa-apa,” ucapnya lirih.

“Nanti malem saya tunggu jam 8 di taman kota.” Ariel kemudian beranjak dari bangkunya. “Permisi.”

Saat Ariel pergi, Leira meneteskan air mata. “Ariel … Aku masih sayang sama kamu. Sayaangg banget!” gumamnya.

Malam harinya…

Ariel dan Priska sudah ada di taman kota. Mereka duduk di bangku panjang warna cokelat yang terbuat dari kayu dekat patung pancoran.

Priska asyik bermain game di handphonenya. Sementara Ariel, membaca buku pelajaran kampus.

Ariel memakai style serba hitam seperti biasa. Baju berbahan kulit yang lumayan ketat yang dibalut jaket hijam panjang. Ia mengenakan celana panjang hitam serta sepatu pantovel berwarna senada.

Sedangkan Priska, mengenakan kaos berlengan panjang warna putih dengan balutan sweater merah lengan buntung dan hotpants biru batas paha. Ia mengenakan sepatu high heels warna merah. Lipgloss pink tak ketinggalan menghiasi bibirnya.

Tak lama kemudian…

“Arieell..!!!” Dari kejauhan, Leira melambai-lambaikan tangan pada Ariel.

Ariel segera berhenti dari aktifitasnya membaca, lalu berdiri.

Leira kemudian menghampiri Ariel.

Baju kaos putih yang dibalut dengan sweater tipis warna hitam, membuat Leira tampak seksi. Terlebih, rok mini hitam yang ia kenakan, menambah keseksian tubuhnya. Bibirnya dibalut oleh lipgloss warna oranye yang membuatnya terlihat cantik dan sensual.
Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan dihiasi oleh jepitan kupu-kupu.

“Lama nggak nunggunya?” tanya Leira.

“Nggak kok. Cuma telat 3 menit,” jawab Ariel. “Oh iya, Pris, ini dia pacar saya. Kenalin!”

Priska berdiri, dan kemudian menyambut tangan Leira yang disodorkan Ariel ke arahnya.

“Giiila! Cakep banget! Jadi minder gue,” gumam Priska.

“Leira..,” ucap Leira sambil menjabat tangan Priska.

“Priska,” balas Priska.

Setelah beberapa saat, seorang pemuda tinggi kekar datang menghampiri Priska, Ariel, dan Leira.

“Maaf Pris kalo telat,” ucap pemuda berkaos merah serta bercelana jeans biru itu.

“Oh iya, kenalin nih pacar gue,” kata Priska.

Ekspresi Ariel mendadak terkejut. “Itu pacar kamu??”

“Ya iyalah! Kenapa? Ganteng ya? Jelas dong!” balas Priska.

Ariel hanya diam. Sesekali ia menatap pacar Priska itu dengan sinis. Karena ternyata pacar Priska tersebut adalah pemuda yang ada di apartemen Leira tadi siang.

Pemuda itu lalu menyodorkan tangannya pada Leira.

Leira menyambut tangan pemuda itu.

“Leeboy,” ucap si pemuda.

“Leira,” balas Leira.

Lalu, Leeboy menyodorkan tangannya pada Ariel.

Ariel menatap Leeboy dengan sinis. Beberapa detik setelahnya, barulah ia menyambut tangan pemuda tersebut.

“Leeboy,” kata Leeboy.

“Ariel,” balas Ariel dengan pandangan acuh.

Ariel kemudian menarik tangan Leira.

“Ada apa, Riel?” tanya Leira.

“Disana ada bazaar,” jawab Ariel seraya menunjuk ke arah bazaar yang berada di dekat komedi putar. “Saya mau ngajak kamu kesana.”

“Ayo deh,” kata Leira.

Ariel dan Leira pun berjalan ke arah bazaar.

Akan tetapi, baru beberapa langkah saja, Leira berhenti, kemudian membalikkan badannya ke belakang. “Priska! Leeboy! Ayo ikut!” ajaknya.

Leeboy menatap Priska, dan kemudian berdiri berbarengan.

“Yuk!” ajak Priska sambil memandang Leeboy.

Leeboy memegang tangan Priska. Lalu mereka berdua berjalan menghampiri Leira.

Akhirnya, mereka berempat berjalan-jalan melihat bazaar.

Beberapa lama kemudian…

“Riel, kaki aku capek nih!” keluh Leira.

“Yaudah, istirahat dulu.” Ariel membawa Leira menuju bangku terdekat, lalu mempersilahkannya duduk.

Priska dan Leeboy mengikuti.

“Ngomong-ngomong pada mau dibeliin minum nggak?” tanya Leeboy.

“Boleh deh,” jawab Priska.

“Boleh boleh.” Leira tersenyum.

Sementara Ariel, ia menatap Leeboy dengan sinis.

Leeboy kemudian pergi dari hadapan mereka.

“Saya juga mau beliin kalian minum. Kalian tunggu disini!” kata Ariel. Ia lalu berjalan mengikuti Leeboy.

Priska mengernyitkan dahinya. “Lho??”

“Oh iya, Pris, Ariel kan temen kampus kamu, dia itu gimana kalo di kampus?” tanya Leira.

Priska tersentak. “Lho kok tahu kalo Ariel temen kampus aku?”

“Ariel yang ngasih tahu. Dia bilang kalo dia mau Double Date sama temen kampusnya malem ini,” jawab Leira.

“Ooh… Hu’um.” Priska mengangguk. “Aku temen kampusnya. Aku yang ngajakin dia Double Date.”

“Dia itu gimana sih orangnya kalo di kampus?” Leira mengulangi pertanyaannya yang tadi.

Priska menjawab, “Dia itu nyebelin.”

Leira tertawa kecil. “Hah?? Nyebelin?? Nyebelin gimana dia?

“Soalnya dia ngalahin aku sama temen-temen aku dalam segala, apalagi rata-rata hal itu yang aku sama temen-temen aku senengin.”

“Contohnya?”

“Banyaaakk deh pokoknya.”

“Cuma itu aja yang bikin kamu bilang dia itu nyebelin?”

“Ada lagi sih sebenernya.”

“Apa tuh?”

“Tapi nanti kamu marah nggak?”

“Hahaha… Nggak, tenang aja.”

“Oke.”

Priska pun menceritakan banyak hal tentang Ariel pada Leira, sampai akhirnya mereka berdua terlarut dalam obrolan dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Oh iya, Ariel sama cowokku kemana, ya? Kok beli minum aja lama banget?” kata Priska, risau.

“Nggak tahu tuh.” kata Leira.

“Mending kita cari aja, yuk!” Priska lalu berdiri.

“Yuk!” balas Leira yang kemudian berdiri juga.

Dan mereka berdua pun pergi mencari Ariel dan Leeboy.

Tak lama, Leira melihat keramaian di suatu tempat, tidak jauh dari tempat ia berdiri.

“Eh Pris, ada apaan sih itu? Kok rame banget??” katanya

Dahi Priska mengernyit. “Nggak tahu juga deh.”

“Coba kita liat, yuk!” ajak Leira.

Priska mengangguk.

Lalu mereka berdua pergi ke kerumunan tersebut. Priska mengajak Leira menyelak, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Betapa terkejutnya Priska dan Leira begitu melihat Ariel dan Leeboy tengah berkelahi. Saat itu, posisi Leeboy tengah didesak di tanah oleh Ariel dan dipukuli.

“Ariel!! Leeboy!!” teriak Priska. “Ada apa sebetulnya??” Ia kemudian menarik Ariel yang sedang mendesak Leeboy, setelah itu membantu Leeboy berdiri.

Wajah Leeboy sudah berlumuran darah dan babak belur. Sementara Ariel hanya berdarah pada bagian bibir.

“Riel, lo tuh bener-bener nyebelin, ye??” ujar Priska seraya menatap Ariel. Saat itu, Leira menghampiri Ariel.

Leira lalu mengeluarkan tisu dari kantung celananya, mengambilnya selembar, kemudian mengelap luka di bibir Ariel.

“Lo bukan cuma nyebelin di kampus. Dimanapun lo tetep nyebelin! Lo tahu, lo itu udah ngerusak acara kencan kita, tahu nggak!?” Priska melanjutkan kalimatnya. Setelah itu, ia mengambil sapu tangan dari saku sweaternya untuk mengelap luka di wajah Leeboy. “Kamu nggak apa-apa kan, sayang?” tanyanya pada Leeboy.

“Pris, ayo kita pulang aja!” ajak Leeboy.

“Tapi-”

Kata-kata Priska terputus begitu Leeboy menarik lengannya untuk pergi dari tempat itu.

Akan tetapi, baru beberapa langkah saja Leeboy berjalan, Ariel menarik lengannya, dan…

BUAGH!

Ia meninju pipi Leeboy hingga Leeboy jatuh terjerembab.

“Jangan pernah kamu sentuh-sentuh Priska lagi!” seru Ariel sambil menatap Leeboy. Ia lalu menarik tangan Priska, membawanya pergi dari kerumunan orang-orang yang ada disana.

Priska berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ariel tetapi tidak bisa. Tenaga Ariel begitu kuat.

Setelah sampai di tempat yang jauh dari kerumunan banyak orang, Ariel baru melepaskan tangan Priska.

“Dasar lo cowok nyebelin! Maksud lo tuh apa sih sebenernya??” maki Priska.

Ariel hanya diam. Sementara Priska melanjutkan kata-katanya.

“Asal lo tahu ye, ini tuh kencan pertama gue sama cowok gue! Dan lo udah ngerusak semuanya! Kenapa sih lo pake berantem sama cowok gue? Kenapa, hah?? KENAPA???”

“Karena dia cowok yang nggak baik buat kamu,” jawab Ariel.

“Cowok yang nggak baik buat gue??” Mata Priska menyipit berbahaya. “Cowok yang nggak baik gimana tuh maksud lo??”

Ariel kembali diam, sebelum akhirnya Priska memukul-mukuli dadanya sambil terus meracau.

“Lo itu jahat! Cuma hari ini gue bisa kencan sama Leeboy. Bisa ngelepas kangen dan seneng-seneng sama dia. Tapi akhirnya malah kayak gini. Rusak deh semuanya. Lo itu jahat, tahu nggak?!” Air mata menetes dari pelupuk mata Priska, ia terisak dan masih memukul-mukuli dada Ariel dengan kedua tangannya.

Ariel lalu menangkap tangan Priska, kemudian menggenggam kedua jemarinya, seraya berkata, “Priska, tenang, Pris. Tenang dulu.” Ia menatap mata Priska dengan seksama.

“Tenang gimana, Riel? Gue … Gue … Ihik ihik!” Priska kembali terisak. “Kenapa sih elo ngelakuin ini, hah?? Kenapa??”

“Karena Leeboy selingkuh sama cewek lain,” jawab Ariel.

“Apa??” Priska tersentak. “Itu pasti nggak mungkin! Lo pasti boong kan, Riel? Lo boong kan?”

“Nggak,” jawab Ariel. “Asal kamu tahu, Pris, saya nggak akan mungkin mukul orang kalo orang itu nggak salah. Pantang dalam kamus hidup saya. Kalo kamu nggak percaya, terserah.”

“Tapi dia selingkuh sama siapa??” tanya Priska dengan dahi mengernyit.

“Leira,” jawab Ariel.

“Hah???” Priska tercekat. Jantungnya berhenti sesaat dan matanya melotot. “E-elo serius?? Bukannya Leira itu pacar lo?? K-kok bisa?? Ini aneh banget! Nggak nggak. Ini nggak mungkin!”

“Ini mungkin,” balas Ariel. “Tadi pas lagi nyari minum, saya sempet tanya sama Leeboy tentang hubungan kalian. Kata Leeboy, dia cuma disuruh kamu pura-pura jadi pacarnya. Dia itu nggak nganggap kamu siapa-siapanya. Yaudah saya langsung hajar aja orang kayak gitu. Sampe akhirnya kita berantem… Saya rasa, Leeboy sama Leira udah kerjasama. Makanya tadi mereka pura-pura nggak kenal.”

Hati Priska benar-benar sakit mendengarnya, seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Ia kembali meneteskan air mata.

“Kalo itu bener, berarti mereka udah jahat banget! Maksud mereka sebenernya tuh apa?? Terus kenapa lo nggak daritadi bilangnya pas pertama kali Leeboy dateng??” kata Priska.

“Karena saya masih ngormatin kamu sama Leira,” ucap Ariel. “Kalo saya ngomong itu pas ada kalian, acara kita bisa rusak.”

Priska menggeleng. “Percuma, Riel. Acaranya udah terlanjur rusak.”

“Kalo kalian nggak nemuin kita, acaranya nggak mungkin rusak,” ucap Ariel.

“Terserah lo deh. Capek gue ngomong sama lo,” kata Priska dengan nada pasrah. “Oh iya, kenapa lo berantem sama Leeboy karena Leeboy bilang gue itu cuma pacar pura-puranya?? Seolah elo tuh … Elo ngebela dan percaya banget sama gue. Kenapa, Riel??” Ia lalu menatap mata Ariel.

Ariel terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya berkata, “Pertanyaan yang nggak bisa saya jawab.”

Priska menatap wajah Ariel. Menatapnya dalam-dalam. “Oke kalo gitu. Gue pulang dulu. Permisi.” Ia kemudian pergi meninggalkan Ariel dengan wajah muram.

=***=

Part 4 End

Minggu besok gax terbit dulu, dikarenakan Author’nya ada tugas kampus. terbit lagi tanggal 20 November 2016, di jam yang sama

Standar
Novel Superhero Indonesia, Novel Tokusatsu Indonesia, Superhero Indonesia, Tokusatsu Indonesia

Waysteel: Wayang Baja (Indonesian Superheroes) ~Part 3

Kediaman Sadewa, pukul 20:00 WIB.

Pesta ulang tahun Ariel selalu mewah dan meriah, layaknya pesta yang diadakan keluarga konglomerat lain. Tak hanya
suasananya, para tamu yang datang pun terlihat glamour, karena mereka yang hadir bukan cuma teman-teman kampus Ariel (tak terkecuali Trio Pelangi), tetapi juga rekan-rekan bisnisnya di perusahaan ternama `Sadewa Hi-Tech`.

Sejujurnya, pesta mewah yang diadakan di taman belakang rumahnya itu, bukanlah kemauan dan rencana Ariel, melainkan Maritha yang merupakan orang kepercayaan keluarga Sadewa, sekaligus asisten Ariel.

Usai acara inti berakhir, para tamu undangan menyebar, asyik dengan hidangan yang tersedia serta obrolan masing-masing. Trio Pelangi terlihat sedang duduk di bangku dekat pancuran air sambil mengobrol satu sama lain.

“Eh Pris, tumben kita diundang Ariel ke acara ultahnya. Biasanya kan nggak pernah. Malah kita aja nggak tahu ultah tuh anak kapan,” kata Jenny setelah menyuap pudding yang ia pegang.

“Nggak tahu tuh. Gue juga heran. Padahal dia rival kita di kampus,” ucap Priska.

“Ya ampuunn… Makanannya enak banget! Nggak nyesel aku dateng kesini.” Dhinda asyik sendiri dengan makanan yang ia santap yaitu semangkuk sup jagung. “Ternyata Ariel baik juga ya orangnya.”

“Iya baek. Baeknya cuma hari ini doang,” kata Priska ketus.

“Priska, nggak boleh begitu, tahu.” Dhinda menasehati. “Biar gimanapun juga kita kan udah diundang ke acara pestanya. Seenggaknya hargain dia dikit lah. Siapa tahu dia udah nggak nyebelin lagi.”

“Iya. Tapi dikit aja,” kata Priska. Sekali lagi, dengan nada ketus.

“Udah udah! Kita juga kan dapet makan gratis. Ambil positifnya aja. Tapi, cuma buat kali ini!” ujar Jenny.

Tiba-tiba, Ariel yang memakai pakaian tuxedo lewat dihadapan mereka.

“Ariel!” panggil Priska.

Ariel menengok ke kiri lalu berhenti.

Priska berdiri, kemudian menyodorkan tangannya pada Ariel dengan sedikit malas. “Selamet ulang tahun ya.”

“Thanks.” Ariel menjabat tangan Priska.

“Oh iya, Riel, tumben lo ngundang kita. Langka banget nih. Ada angin apa?”

“Nggak ada angin apa-apa.” Ariel kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Priska.

“Ternyata si Ariel nggak berubah. Masih nyebelin,” ucap Jenny. Ia berdiri dari bangkunya lalu menghampiri Priska. “Tapi yang penting, makan gratiiis..”

“Ah, lo mah makan mulu sih. Liat tuh badan lo yang hampir melar,” tukas Priska.

“Biarin. Yang penting kan masih sekseeehh!!” ujar Jenny.

Tiba-tiba, suasana yang meriah dan menyenangkan itu dikacaukan oleh segerombolan orang berjas hitam rapih. Mereka menyerang para tamu dengan pistol dan juga tangan kosong, serta menghancurkan dekorasi pesta. Para tamu pun berhamburan, ada pula yang menjerit ketakutan.

“Ya ampun, ada apa sih ini??” kata Priska dengan panik.

“Duilaahh.. Mereka siapa sih?? Kok dateng-dateng bikin kacau??” ucap Jenny kebingungan. “Oh iya Dhin, lo kan bisa karate, coba lo hadepin mereka!” perintah Jenny pada Dhinda.

Dhinda mengangguk. “Oke! Akan aku coba,” ucapnya. Ia pun kemudian maju untuk menghajar gerombolan orang berjas hitam tersebut.

Dhinda menarik tangan salah seorang dari mereka yang sedang menyerang tamu pesta, lalu memelintirnya dan menendang perutnya beberapa kali. Setelah itu menendang wajahnya, hingga orang berjas hitam tersebut terlempar beberapa langkah dari posisi awalnya.

Melihat hal itu, dua orang berjas hitam lagi maju menyerang Dhinda. Ketika mereka merasa jaraknya sudah dekat dengan Dhinda, mereka melayangkan pukulan pada gadis itu.

Sadar akan serangan yang datang, Dhinda menangkis pukulan tersebut menggunakan tangan kanan dan kirinya, kemudian menapak dada mereka yang disusul dengan tendangan ke wajah mereka secara bergilir. Dua orang berjas hitam itu pun jatuh terjerembab.

DZIUNG! DZIUNG!

Suara tembakan terdengar nyaring, pelurunya mengarah ke Dhinda.

Melihat hal itu, Dhinda berusaha menghindar dengan melompat ke arah kanan.

Tembakan itu berasal dari salah seorang berjas hitam lagi.

Di waktu yang hampir bersamaan, orang-orang berjas hitam yang tadi sudah Dhinda tumbangkan kembali berdiri, lalu berubah menjadi makhluk mengerikan berwarna merah dengan sepasang tanduk hitam di kepalanya serta cakar runcing di setiap jarinya. Makhluk itu tak lain adalah `Asura` (makhluk yang belum lama ini dilawan Ariel). Salah satu dari Asura maju menyerang Dhinda.

Asura tersebut menyerang Dhinda dengan cakarnya.

Dhinda secepatnya menepis serangan yang datang itu dengan punggung tangan kirinya, lalu meninju perut Asura itu berulang kali. Di saat yang sama, 2 orang berjas hitam mengarahkan pistol mereka ke arah Dhinda. Dan pelatuknya pun mereka tekan DZIUNG! DZIUNG! DZIUNG! DZIUNG! DZIUNG! DZIUNG! Peluru kembali mengarah ke Dhinda. Kali ini lebih banyak.

Dhinda yang menyadarinya, dengan cepat melindungi diri dengan menjadikan Asura yang bertarung dengannya sebagai `tameng`. Alhasil, Asura itulah yang kena tembak. Asura tersebut jatuh, tubuhnya berubah menjadi pasir.

“Ternyata nggak sia-sia gue latihan lebih keras sebulan ini,” gumam Dhinda. Saat itu, 2 Asura lagi maju. Mereka menyerang Dhinda membabi-buta, menghujaninya dengan cakaran, pukulan, dan tendangan.

Dhinda merasa kerepotan, karena ia juga harus menghindari tembakan dari 2 orang berjas hitam.

“Ayo Dhin!! Semangat terus!! Dhinda hebat!!!” teriak Priska dari jauh.

“Semangat Dhin!!!” teriak Jenny yang ada disamping Priska.

Ariel yang sedang berada di dalam rumahnya, merasa penasaran mendengar kegaduhan yang `tak biasa` yang berasal dari taman belakang rumahnya. Ia pun segera pergi kesana untuk mengecek.

Ketika sudah berada disana, Ariel langsung terkejut begitu melihat kekacauan di tengah pestanya.

Ariel melihat 2 Asura sedang bertarung sengit melawan Dhinda hingga dekorasi pesta banyak yang rusak dan orang-orang berhambur ketakutan. Selain itu, Dhinda juga ditembaki oleh 2 orang berjas hitam.

Tak mau diam saja melihat pestanya dirusak, Ariel kemudian mengambil sesuatu dari saku sebelah kiri celananya. Sesuatu itu ialah sebuah benda persegi dengan warna dominan hitam yang bentuknya seperti `handphone` yang tak lain adalah `Wayphone`. Ariel menekan tombol `122` pada benda tersebut lalu menekan tombol `Ok`. Layar Wayphone tiba-tiba memunculkan gambar pedang Dhamarwulan dan Waysteel Digital Memory.

Dari dalam Wayang Base, Dhamarwulan serta Waysteel Digital Memory berubah menjadi serpihan-serpihan holograpichal dan kemudian menghilang.

Tak lama, serpihan-serpihan holograpichal itu muncul di depan Ariel dan lama kelamaan berubah kembali menjadi Dhamarwulan serta Waysteel Digital Memory. Ariel mengambil Waysteel Digital Memory yang melayang di depannya. Benda itu ia kantongi di saku belakang sebelah kiri celananya. Tak lupa, ia juga mengantongi Wayphone di saku samping kiri celananya.

Setelah itu ia mengambil Dhamarwulan yang masih melayang dihadapannya, kemudian langsung melepaskan pedang tersebut dari sarungnya.

Usai menyelipkan sarung Dhamarwulan di ikat pinggangnya, Ariel melompat ke arah Dhinda yang sedang bertarung. Tanpa basa-basi, Ariel langsung menebas dua Asura yang tengah menyerang Dhinda dengan Dhamarwulan. Ariel menebas mereka dari belakang, berulang kali. Tubuh kedua Asura itu pun terpotong-potong, dan akhirnya berubah menjadi pasir.

Usai membunuh 2 Asura, Ariel membelah tiap butir peluru yang ditembakkan oleh 2 orang berjas hitam ke arahnya. Kemudian, ia membalik meja besar berbentuk persegi, lalu ia tendang ke arah 2 orang berjas hitam itu. Akan tetapi…

BUBRAKK!!

Meja tersebut hancur. Dari balik puing-puingnya, 2 Asura meloncat ke arah Ariel. 2 orang tadi rupanya telah berubah menjadi Asura.

Menyadari hal tersebut, Ariel maju dua langkah, lalu memutar tubuhnya. Tubuh Ariel berputar sangat kencang, bagai roda mobil yang tengah memacu gasnya.

Begitu jarak 2 Asura tadi sudah dekat dengan Ariel, tubuh mereka langsung terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Setelah itu meleleh menjadi pasir.

Tidak lama kemudian, Ariel berhenti berputar.

Dhinda berjalan menghampiri Ariel. “Riel, makasih yaa,” ucapnya.

Ariel hanya diam dan tak menggubris.

Ternyata disana ada Hanzo. Ia daritadi menyaksikan pertarungan tersebut. Kemudian, ia melompat dan tiba dihadapan Ariel dan Dhinda.

“Well.. Well.. Well.. Duet yang bagus. Anak buah saya semuanya berhasil kalian habisi,” ucap Hanzo.

“Orang itu.. Dia lagi,” gumam Ariel.

“Siapa kamu?” tanya Dhinda.

Aku Hanzo, makhluk abadi!” jawab Hanzo.

“Khuh! Abadi katamu?” dengus Ariel.

Hanzo melipat kedua tangannya di dada. “Sekarang … Karena kalian sudah menumbangkan anak buah saya, jadi kalian berdua lawan saya!”

“Biar aku aja, Riel!” ucap Dhinda. “Aku mau tahu, dia gede di mulut aja apa nggak.”

“Kalo begitu, maju!” ujar Hanzo.

Dhinda berjalan 2 langkah ke depan, memasang kuda-kuda `karate`, lalu maju menyerang Hanzo.

Pukulan pertama Dhinda gagal, meleset ketika Hanzo mengelak ke kanan.

Hanzo balas memukul Dhinda dan kena persis di wajahnya.

Dhinda terjatuh.

“Cuma segitu?” cemooh Hanzo.

“Hiiaat!!!” teriak Dhinda yang kemudian berdiri, lalu menyerang Hanzo.

Dhinda mengayunkan kepalan tinjunya persis ke wajah Hanzo. Namun, Hanzo mampu menghindarinya dengan mudah. Ia memutar bahu kanannya ke belakang. Setelahnya, ia menahan tangan Dhinda dengan punggung tangan kirinya. Dhinda lalu kembali menyerang Hanzo, kali ini dengan kepalan tangan kirinya. Sayangnya, lagi-lagi serangan tersebut luput.

Tidak mau menyerah, Dhinda kemudian mengayunkan tinju serta tapakan berulang kali pada Hanzo.

Tapi lagi-lagi, Hanzo dapat menepis dan mengelak dari semua serangan Dhinda.

Hanzo mengepal tinjunya kuat-kuat. Dan dengan satu pukulan di perut saja, Dhinda terjengkang beberapa langkah ke belakang.

“Dhinda!!” teriak Priska dan Jenny berbarengan.

Priska berlari ke arah Dhinda, kemudian berdiri di depannya sambil merentangkan kedua tangannya.

“Nggak ada yang boleh nyakitin sahabat gue!!” teriak Priska.

Hanzo maju menghampiri Priska. “Jadi dia sahabat kamu? Boleh juga kemampuannya. Tapi, dia nggak akan sanggup ngalahin saya.”

“Jangan mendekat!” teriak Priska. “Atau…”

“Atau apa?” tanya Hanzo yang kemudian mendekati Priska, lalu menarik tangan gadis itu, kemudian memukul tengkuknya hingga pingsan. “Satu sandera saja cukup,” ucapnya yang kemudian pergi, berlari dari tempat tersebut.

Ariel mengejarnya.

Hanzo berlari menuju mobil caravan berwarna putih yang berada tak jauh dari sana.

Begitu sudah masuk mobil, Hanzo mengikat Priska dengan tambang serta menutup mulut gadis tersebut dengan lakban.

“Kepancing juga dia. Cara saya nggak salah ternyata,” gumam Hanzo. Ia kemudian menstarter mobilnya.

Mobil pun melesat pergi dari tempat itu.

Ariel terlambat, Hanzo lebih cepat darinya.

Namun, ia segera mengeluarkan Wayphone dari saku celana sebelah kirinya, lalu menekan tombol `*5599#` kemudian tombol `Ok` pada benda tersebut.

Gambar motor sport nan `futuristik` muncul pada layar yang ada di benda itu. Motor sport itu tak lain ialah Waybringer.

Beberapa saat kemudian, Waybringer yang terparkir di dalam garasi rumah Ariel berubah menjadi serpihan-serpihan holograpichal. Serpihan-serpihan holograpichal tersebut menghilang lalu muncul di depan Ariel dan berangsur-angsur berubah menjadi Waybringer lagi.

Tak mau membuang waktu, Ariel segera mengantongi Wayphone kembali dan menaiki sepeda motor kesayangannya itu untuk mengejar Hanzo.

Ketika jarak motornya dan mobil Hanzo sudah dekat, Ariel menekan tombol `555` yang ada di dekat speedometer motornya.

Sisi bagian kanan pada Waybringer membuka. Sebuah tembakan `vulcan` keluar dari sana.

Ariel menekan tombol hijau yang berada di dekat tombol angka yang ditekannya tadi, kemudian memiringkan motornya ke sisi sebelah kanan.

Serentetan peluru langsung muntah dari vulcan di motor Ariel, mengarah persis ke ban sebelah kanan mobil Hanzo.

Hanzo yang melihat hal demikian dari kaca spion mobilnya, langsung banting setir ke kiri.

Mobil Hanzo selamat.

Beberapa saat kemudian, peluru kembali muntah dari vulcan motor Ariel, Waybringer, menuju ban mobil sebelah kiri Hanzo.

Kali ini, Hanzo membanting stir ke kanan, membuat mobilnya selamat sekali lagi.

Ariel menekan tombol hijau pada Waybringer sekali lagi sambil memiringkan motornya itu ke kanan. Peluru vulcan Waybringer kembali keluar, mengarah ke ban mobil Hanzo yang sebelah kanan.

Hanzo mengelak lagi. Ia membanting setir mobilnya ke kiri.

Suara decitan mobil Hanzo terdengar keras. Begitu pula dengan suara peluru vulcan milik Waybringer.

Ariel terus menembaki ban mobil Hanzo dengan vulcannya. Sementara Hanzo terus menghindar. Mereka terus begitu selama beberapa saat dan beberapa tikungan.

Sampai akhirnya, mobil Hanzo berhenti dekat sebuah pabrik tua nan kosong.

Hanzo turun dari mobilnya sambil membawa Priska dan berlari masuk ke dalam pabrik tersebut.

Di waktu yang hampir bersamaan, Ariel juga turun dari Waybringer.

Ariel masuk ke dalam pabrik itu. Ia melihat sekeliling. Tapi ia tidak menemukan Hanzo. Tidak lama kemudian…

“Ekhm!” Hanzo tiba-tiba muncul, keluar dari sebuah ruangan.

Ariel tersentak. Kepalanya menoleh ke kanan.

“Ariel Sadewa. Pemuda yang cukup hebat,” ucap Hanzo.

Dahi Ariel mengernyit. “Darimana kamu tahu nama saya?”

“Hahahaha. Cuma dengan menatap mata seseorang dengan seksama, saya bisa tahu data pribadi dan kehidupannya,” kata Hanzo. “Waktu kita bertarung, saya sempat natap mata kamu dengan seksama.”

“Kalo begitu dimana perempuan yang kamu bawa tadi?” tanya Ariel. Tatapan matanya yang dingin menajam.

“Dia nggak apa-apa, tenang saja. Dia ada di salah satu ruangan di pabrik tua ini. Saya bawa dia cuma untuk mancing kamu,” jawab Hanzo. “X-Storm!!” teriaknya kemudian.

Seorang pemuda berambut panjang dengan tubuh tinggi tegap serta berotot keluar dari salah satu ruangan. Ia mengenakan setelan baju lengan panjang warna putih yang bagian sebelah kirinya berlengan pendek. Celananya berwarna senada dengan baju. Lengan kirinya seperti lengan kiri `monster`. Di pinggangnya terselip samurai panjang dengan cabang gagang berbentuk huruf `X`. Pemuda itu berjalan secara perlahan menghampiri Hanzo, kemudian berdiri disampingnya.

“Ini!” Hanzo melemparkan sebuah kalung emas dengan bandulan berupa kristal persegi enam warna biru dengan ruby di tengahnya pada Ariel. Ariel menangkap kalung tersebut, lalu memperhatikannya dengan seksama.

“I-ini … Nggak salah lagi, kalung ini punya Kak Rieft yang diwarisin sama ayah! Kalung ini langka, cuma ada satu di dunia,” gumam Ariel. “Darimana kamu dapet benda ini?” tanyanya pada Hanzo.

“Benda itu punya orang yang ada di sebelah saya,” jawab Hanzo seraya menunjuk pemuda berambut panjang warna perak yang berdiri di sebelah kanannya dengan jempolnya.

“Apa???” Mata Ariel membelalak. Ia lalu memperhatikan ciri fisik orang disamping Hanzo itu dengan seksama, lalu bicara dalam hati, “Rambut perak dan mata biru itu … I-ini mustahil! Orang itu … Dia Kak Rieft! Nggak salah lagi! Walau sekarang rambutnya udah panjang. Tapi, gimana bisa??”

“Hahahahaha… Kenapa, Ariel Sadewa? Saya tidak berkata bohong, saya bicara kenyataan. Dan orang disamping saya ini, sekarang akan jadi lawan kamu!” ujar Hanzo. “X-Storm, habisi dia!!” perintahnya pada pemuda disampingnya.

Pemuda yang dipanggil X-Storm tersebut mengangguk, kemudian maju beberapa langkah ke depan. “Heeaaahh…!!” teriaknya, seraya meliukkan punggung sedikit ke belakang serta mengepalkan kedua tangannya.

“Kakak…,” gumam Ariel dengan nada lirih.

“Saya pergi dulu. Selamat menikmati jamuan dari saya, tamu spesial. Hahahahaha…” Hanzo lalu melompat ke lubang persegi berukuran besar yang ada di atap dan kemudian pergi.

“Kak Rieft … Saya mohon, sadar kak…,” ucap Ariel. “Saya ini Ariel, Ariel Sadewa. Adik kamu.”

“Saya nggak pernah punya adik. Dan nama saya ‘X-Storm’! Ingat itu!” ujar X-Storm sembari menunjuk Ariel.

“Tapi kalung ini!” Ariel mengangkat lengan kanannya, seraya menunjukkan kalung yang ia pegang pada X-Storm. “Ini punya kamu dari ayah. Cuma kamu yang punya kalung ini, kak!”

“Ayah??” X-Storm mengernyitkan dahinya. “Saya nggak punya ayah, dan saya nggak tahu siapa yang ngasih kalung itu. Tapi yang jelas, Hanzo pernah bilang, kalung itu punya pengaruh buruk buat saya, makanya dia ambil. Dan sekarang, kamu boleh ambil kalung itu! Oh iya, berenti panggil saya kakak! Kita nggak ada hubungan apa-apa. Kamu itu lawan saya, dan saya lawan kamu. Jelas?”

“Kakak! TOLONG SADARLAH!!” teriak Ariel.

“Diam!” balas X-Storm yang kemudian mengarahkan telapak tangan kirinya ke depan.

Bagian biru di telapak tangan kiri X-Storm tiba-tiba menyala terang, begitu pula bagian biru berbentuk huruf `X` di punggung tangannya, serta kuku-kuku jarinya. Setelah itu, muncul cahaya bundar berwarna biru seukuran telapak tangannya. Cahaya bundar tersebut diselimuti oleh petir yang menyambar-nyambar.

“Thunder!!” teriak Rieft. Saat itu juga, cahaya biru bundar berpetir tersebut langsung melesat ke arah Ariel.

Terkesiap, Ariel pun menghindarinya dengan melompat ke kanan. Alhasil, cahaya biru bundar tersebut mengenai tembok hingga bolong.

X-Storm mencabut pedang bergagang putih dengan cabang gagang berbentuk huruf `X` yang berada dalam sarung putih yang tersampir di pinggang sebelah kanannya. Setelah itu ia berlari menuju Ariel.

Begitu X-Storm jaraknya dan Ariel sudah dekat, ia langsung menebaskan pedangnya ke tubuh Ariel.

Untungnya, Ariel bisa menghindari serangan tersebut dengan memutar bahu kirinya ke belakang. X-Storm kembali menebaskan pedangnya. Ia melakukan tebasan datar ke arah kepala Ariel.

Ariel yang sudah membaca pola serangan X-Storm segera merunduk. Walhasil serangan X-Storm meleset.

Akan tetapi, X-Storm yang melihat celah pada pertahanan Ariel segera menendang perut pemuda itu sekuat tenaga. Hal demikian membuat tubuh Ariel meliuk sedikit ke belakang.

Memanfaatkan kesempatan yang ada, X-Storm langsung meninju perut Ariel dengan lengan kirinya sekuat mungkin.

Ariel yang tidak siap menerima serangan itu pun mencelat ke belakang. Tubuhnya menubruk tembok hingga bolong. Ia terlempar ke luar pabrik dan terguling-guling begitu tubuhnya menyentuh tanah.

Setelah tubuhnya berhenti berguling, Ariel berusaha bangkit sembari memegangi perutnya yang sakit bukan main sekaligus menahan rasa sakit di punggungnya.

“Ahakh!” Ariel muntah darah. “Ku-kuatnya…,” gumamnya.

X-Storm keluar dari pabrik melalui salah satu pintu yang ada disana. Ia berjalan perlahan menghampiri Ariel yang baru setengah bangkit.

“Cuma segitu kemampuan kamu, Ariel?” tanya X-Storm yang sudah berjarak beberapa hasta dari Ariel dengan nada dingin.

“Kakak, tolong jangan paksa saya!” pinta Ariel.

X-Storm tersenyum miring. “Saya nggak peduli. Lawan saya, atau kamu akan mati!”

“Geh ….” Ariel kembali muntah darah.

X-Storm maju beberapa langkah lagi, kemudian ia menarik kerah baju Ariel dengan lengan kirinya sehingga Ariel berdiri dengan sempurna.

“Dasar lemah!” cemooh X-Storm, sebelum akhirnya meninju perut Ariel sekali lagi dengan lengan kirinya.

Ariel langsung terpental ke belakang, ke arah rumah kosong kecil yang jaraknya tak jauh dari tempat X-Storm berpijak. Tubuhnya menabrak kaca rumah itu hingga pecah dan ia pun masuk ke dalamnya.

“Thunder!! Thunder!! Thunder!!” teriak X-Storm seraya meluncurkan bola cahaya biru berpetir dari telapak tangan kirinya sebanyak 3 kali dan mengarahkannya ke lima jejer drum minyak yang ada di depan rumah tempat Ariel terpental.

BUOOMM!! BUOOMM!! BUOOMM!! BUOOMM!! KWABOOMM!!!

Lima drum minyak yang ada di depan rumah tersebut meledak. Dan akibat dari ledakan itu, tembok rumah tersebut rusak parah dan rumah itu kebakaran.

“Khuh! Cuma segitu aja kemampuannya,” ucap X-Storm yang kemudian membalikkan badannya.

Namun, baru selangkah saja X-Storm berjalan, ia berhenti karena mendengar sesuatu di belakangnya.

Begitu X-Storm memutar tubuhnya ke belakang, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah `Waysteel` yang sedang berdiri tegak di kobaran api sambil memegang `Dhamarwulan` di tangan kanannya.

“Apa itu??” gumam X-Storm kebingungan. “Siapa kamu?” tanyanya pada Waysteel.

“Panggil saya Waysteel. Wayang … Baja,” ujar Waysteel.

“Waysteel??” X-Storm mengeryitkan dahinya.

“Ya. Apa yang kakak lakuin tadi maksa saya bertindak sejauh ini,” ucap Waysteel.

“Kakak??” X-Storm berfikir sejenak, sebelum akhirnya bertanya, “Apa kamu Ariel Sadewa?”

“Tepat,” jawab Waysteel.

“Hoo… Begitu rupanya. Ternyata kamu punya wujud lain. Ini akan jadi menarik,” kata X-Storm.

“Kalo begitu, karena kakak udah maksa saya, saya nggak keberatan lanjutin pertarungannya,” ucap Waysteel.

“Bagus!” ujar X-Storm. “Saya juga punya wujud lain. Dan sekarang, saya akan memakainya. Bersiap-siaplah!”

Dari balik helm Waysteel-nya, Ariel menatap tajam.

X-Storm mengangkat lengan kirinya setinggi wajah, sebelum akhirnya mengepalkan jarinya dan berteriak, “X-Storm Armor!!”

Bagian biru yang berbentuk huruf `X` di punggung tangan X-Storm menyala terang. Kemudian tubuhnya tertutup cahaya biru nan menyilaukan. Tak lama, cahaya itu meredup dan tubuh X-Storm pun berubah. Tubuhnya kini diselimuti baju baja berwarna dominan putih dan biru di beberapa bagiannya. Bagian biru tersebut bentuknya seperti kaca, terdapat di kedua lutut, tangan kanan, serta beberapa bagian lainnya. Kaca helm pakaian pelindung itu juga berwarna biru, dan di bagian atas helm tersebut, terdapat sepasang tanduk pipih. Lalu di bagian dadanya ada lambang seperti huruf `X` berwarna biru pula. Yang tidak berubah dari X-Storm hanya lengan kiri dan senjatanya saja.

X-Storm Armor

x-storm

“Ternyata dia sama kayak Strong,” gumam Waysteel.

Mari, kita mulai pertarungannya!” ucap X-Storm seraya memasang kuda-kuda dan perlahan menyerong beberapa langkah ke kiri.

Waysteel pun demikian, ia memasang kuda-kuda, dan perlahan menyerong beberapa langkah, namun ke kanan.

“Thunder!! Thunder!! Thunder!!” X-Storm menembakkan 3 bola cahaya biru berpetirnya ke arah Waysteel.

Sadar akan serangan yang datang, Waysteel pun menebas bola cahaya biru tersebut satu persatu.

“Heaaaaahh!!” Di waktu yang hampir bersamaan, X-Storm berlari ke arah Waysteel sembari mengangkat pedangnya.

Untung saja Waysteel bergerak cepat, ketika jarak X-Storm sudah dekat, tebasan pedangnya mampu ia tangkis dengan Dhamarwulan, hingga berdentang keras TRANKKK!!! Dan menimbulkan percikan api.

Setelah itu, mereka berdua kembali mengayunkan pedangnya.

TRANK!! TRINK!! TRANK!! TRINK!!

Adu pedang yang sengit terjadi diantara mereka berdua. Mereka berdua mengayunkan pedang beberapa kali dan saling beradu pedang. Masing-masing dari mereka mengeluarkan jurus-jurus yang sangat apik. Debu beterbangan akibat gesekan kaki mereka

Sesekali, Waysteel mengelak menghindari pukulan tangan kiri X-Storm yang berbahaya dan ia segera membalasnya dengan ayunan Dhamarwulan beberapa kali ke arah X-Storm yang membuat X-Storm kerepotan.

Ketika tebasan besar Waysteel mengarah padanya, dengan sigap X-Storm melompat mendatar ke belakang menghindari tebasan tersebut.

X-Storm terdiam sembari berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah.

“Boleh juga dia sekarang,” gumam X-Storm, sebelum akhirnya ia berlari dengan kecepatan tinggi ke hadapan Waysteel.

Melihat hal demikian, Wasteel kembali memasang posisi siaga.

TRANK!! TRINK!!

Pedang Waysteel dan X-Storm beradu lagi. Jurus-jurus maut kembali mereka keluarkan selama`beberapa saat`.

TRANKK!!

X-Storm terseret ke belakang menahan kekuatan Dhamarwulan milik Waysteel. Namun kemudian, X-Storm menghentakkan pedangnya yang beradu dan itu membut Waysteel sedikit terpental ke belakang.

Memanfaatkan kesempatan yang ada, X-Storm langsung meninju dada Waysteel dengan tangan kirinya. Waysteel yang tidak siap menangkis pun terlempar cukup jauh dari posisi awalnya lalu menubruk pohon.

“Egh …,” Waysteel yang sudah setengah bangkit mengusap dadanya yang sakit. “Bahaya tangan kirinya.”

” X-Storm berdiri tegak dan tersenyum sinis dari balik helmnya. “Khuh!” dengusnya.

“Oke kalo begitu.” Wasteel kemudian menekan tombol merah yang ada di sebelah kiri sabuknya.

`Highspeed Activated!`

Mata sabuk Waysteel baru saja mengeluarkan suara.

Dalam sekejap, Waysteel langsung lenyap dari pandangan X-Storm.

“Hah?? Kemana dia??” X-Storm kebingungan.

Tiba-tiba, X-Storm merasakan tubuhnya ditebas berulang kali dengan kecepatan di luar batas. Kemudian, X-Storm merasakan perutnya dihantam oleh sesuatu yang membuatnya terpental jauh ke belakang.

Belum cukup sampai disitu, X-Storm ditebas lagi dari segala arah dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya. Sampai akhirnya, X-Storm terlempar, membentur tembok pabrik hingga hancur dan ia masuk ke dalamnya serta terguling-guling.

`Highspeed Over!`

Terdengar suara rekaman digital, dan Waysteel kembali dapat dilihat oleh pandangan mata.

Di saat yang hampir sama, X-Storm sudah kembali berdiri walau sempoyongan dan tubuhnya berasap-asap.

“Sial,” geram X-Storm sambil memegangi perutnya.

“Kakak yang maksa saya,” ucap Waysteel yang berdiri tegak memandang X-Storm yang jaraknya agak sedikit dekat.

“Baiklah ….” X-Storm lalu mengangkat lengan kirinya setinggi wajah, sebelum akhirnya mengepalkannya sembari berkata, “Invisible.””

Bersamaan dengan itu, tanda `X` yang ada di punggung tangan X-Storm pun menyala terang, dan tubuh X-Storm pun menghilang dari pandangan mata.

“Ah?!” Waysteel terkejut.

Tak berselang lama, tubuh Waysteel seperti ditebas berkali-kali dari segala arah dan tidak diberi kesempatan untuk bernafas.

Lalu, dagu Waysteel dihantam keras oleh sesuatu yang tidak terlihat sampai ia terpelanting ke atas, kemudian ia di hantam lagi ke bawah dan jatuh ke lantai sampai lantai tersebut retak dan berjejak seukuran tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, X-Storm kembali terlihat, dan berada persis di depan Waysteel.

Waysteel terpojok. Ia sudah tak mampu melanjutkan pertarungan.

X-Storm berdiri menatapnya, lalu mengayunkan pedangnya, bersiap menyarangkan sabetan besar pada Waysteel.

Waysteel hanya bisa pasrah.

Namun, tiba-tiba X-Storm mengerang kesakitan. Pedangnya terjatuh ke lantai. Ia memegangi kepalanya sambil mengerang dengan tubuh sempoyongan.

Tak lama, tubuh X-Storm menghilang. Bersamaan dengan itu, pedangnya yang tergeletak di lantai juga menghilang.

Waysteel selamat. Tapi ia harus kehilangan kakaknya sekali lagi.

“Kakaakkk!!!” teriak Waysteel yang sudah setengah bangun dan dalam posisi berlutut. Ia mengepal tangannya kuat-kuat, kemudian meninju lantai hingga bolong. “Kenapa?? Kenapa harus kayak gini?? KENAPA???” Dari balik topengnya, Ariel meneteskan air mata.

Waysteel kemudian membuka penutup kecil yang ada di lengan kanannya dan menekan tombol disana, membuat lampu led yang ada disamping tombol itu menyala dan mengeluarkan suara rekaman digital, `Armor System Deactivated!`

Spontan, armor yang dikenakan Ariel berubah menjadi transparan, lalu masuk ke dalam lampu yang ada di gagang Dhamarwulan. Setelah itu, ia mencabut Waysteel Digital Memory yang tertancap di atas gagang pedangnya tersebut dan mengantonginya di saku belakang celananya.

Waysteel telah kembali ke wujud Ariel.

Ariel kemudian mengambil Wayphone di dalam saku celana sebelah kirinya, lalu menekan tombol `111` dan dilanjutkan dengan tombol `Ok` pada benda itu. Seketika, layar Wayphone menampilkan gambar sarung pedang Dhamarwulan. Tak lama, di depan Ariel muncul serpihan-serpihan holograpichal yang kemudian berubah menjadi sarung pedang Dhamarwulan.

Ariel mengambil sarung pedang tersebut, menyisipkan Dhamarwulan ke dalamnya, lalu menyembunyikan pedang tersebut dibalik jasnya. Setelah itu, ia berdiri, kemudian memeriksa setiap sudut ruangan untuk mencari dimana Priska disembunyikan.

Sampai akhirnya, di salah satu ruangan, Ariel menemukan Priska tengah tergeletak tak sadarkan diri di pipa besi yang besar dengan tubuh yang terikat oleh tali tambang. Ariel langsung menghampirinya. Ia membuka tali tambang yang mengikat tubuh Priska, lalu membuka lakban yang memplester mulut gadis itu.

Perlahan-lahan Ariel mengguncang-guncang tubuh Priska.

Kelopak mata Priska mulai terbuka pelan-pelan. Pandangan yang pertama kali ia lihat ialah sosok Ariel yang sedang memandang dirinya.

Priska langsung terkejut. Ia yang sudah sadar dari pingsannya segera duduk dan mundur menjauhi Ariel dengan cepat, kemudian bertanya, “Ariel?? Kok lo bisa ada disini?? Lo nggak ngapa-ngapain gue kan??”

“Bagus kalo kamu udah sadar.” Ariel berdiri, kemudian membelakangi Priska. “Ayo pulang!”

“Heh! Lo nggak ngapa-ngapain gue kan??” Priska mengulang pertanyaannya.

“Khuh!” dengus Ariel. “Buat apa?” Suaranya terdengar berat dan berwibawa.

“Bagus deh kalo gitu.” Priska lalu berdiri.

“Mau pulang bareng?” tanya Ariel tanpa menoleh ke arah Priska.

“Nggak usah!” tolak Priska. “Gue pulang sendiri aja.”

“Yaudah,” balas Ariel yang kemudian berjalan meninggalkan Priska.

Ariel berjalan ke arah luar. Sesampainya di luar, ia langsung menaiki Waybringer, menstarternya, dan melesat pergi dari tempat tersebut.

 =***=

Part 3 End

Nantikan kelanjutan ceritanya Minggu 30 Oktober 2016, pukul 07 atau 08 malam.

Standar